10 Suplemen Populer Ini Ternyata Tak Dibutuhkan Tubuh
akar dari Harvard menyebut banyak suplemen yang kerap dikonsumsi masyarakat ternyata tidak diperlukan tubuh secara umum dan justru berpotensi berdampak negatif jika dikonsumsi berlebihan
Banyak orang mengonsumsi suplemen dengan harapan meningkatkan daya tahan tubuh, menjaga jantung, hingga memperlambat penuaan. Namun pakar dari Harvard T.H. Chan School of Public Health dan publikasi kesehatan Harvard Health Publishing menjelaskan bahwa sebagian besar suplemen berikut tidak diperlukan jika seseorang sudah memiliki pola makan seimbang dan tidak memiliki kekurangan nutrisi spesifik.
Pertama, multivitamin. Produk ini paling sering dikonsumsi karena dianggap sebagai âasuransi kesehatanâ. Namun berbagai studi menunjukkan bahwa multivitamin tidak secara signifikan menurunkan risiko penyakit jantung, kanker, maupun memperpanjang usia pada orang sehat. Multivitamin baru dibutuhkan bila terdapat defisiensi yang jelas.
Kedua, vitamin C dosis tinggi. Vitamin C memang penting untuk daya tahan tubuh, tetapi kebutuhan harian sebenarnya relatif kecil dan mudah dipenuhi dari buah serta sayur. Konsumsi dosis tinggi dalam jangka panjang tidak terbukti mencegah flu secara signifikan dan bisa memicu gangguan pencernaan hingga risiko batu ginjal.
Ketiga, vitamin E. Dahulu vitamin ini populer sebagai antioksidan untuk jantung dan kulit. Namun penelitian besar menunjukkan suplementasi vitamin E dosis tinggi tidak menurunkan risiko penyakit jantung, bahkan dalam beberapa kasus dikaitkan dengan peningkatan risiko perdarahan.
Keempat, beta-karoten. Antioksidan ini sering dikaitkan dengan kesehatan mata dan perlindungan sel. Tetapi pada perokok, suplemen beta-karoten justru dikaitkan dengan peningkatan risiko kanker paru. Artinya, tidak semua antioksidan dalam bentuk suplemen aman untuk semua orang.
Kelima, ginkgo biloba. Banyak dikonsumsi untuk meningkatkan daya ingat dan mencegah demensia. Namun bukti ilmiah tidak menunjukkan manfaat signifikan dalam mencegah penurunan kognitif pada orang sehat.
Keenam, suplemen kolagen. Produk ini populer untuk kesehatan kulit dan sendi. Meski ada beberapa penelitian kecil yang menunjukkan manfaat pada elastisitas kulit, bukti jangka panjang masih terbatas dan asupan protein dari makanan sering kali sudah cukup untuk mendukung produksi kolagen alami tubuh.
Ketujuh, suplemen detoks atau pembersih tubuh. Pakar menegaskan bahwa hati dan ginjal sudah memiliki sistem detoksifikasi alami. Produk detoks yang dijual bebas umumnya tidak memiliki dasar ilmiah kuat dan bahkan bisa membebani organ tubuh.
Kedelapan, minyak ikan (omega-3) dosis tinggi. Omega-3 memang bermanfaat, tetapi bagi orang yang rutin mengonsumsi ikan berlemak, tambahan suplemen sering kali tidak diperlukan. Konsumsi berlebihan juga dapat meningkatkan risiko perdarahan pada sebagian orang.
Kesembilan, vitamin B kompleks tanpa indikasi. Vitamin B penting untuk metabolisme energi, tetapi kelebihan vitamin B tertentu bisa menyebabkan efek samping seperti kesemutan atau gangguan saraf bila dikonsumsi dalam dosis tinggi tanpa pengawasan.
Kesepuluh, probiotik umum tanpa kebutuhan spesifik. Probiotik dapat membantu dalam kondisi tertentu seperti gangguan pencernaan, tetapi tidak semua produk memiliki strain bakteri yang terbukti efektif. Mengonsumsinya tanpa indikasi medis sering kali tidak memberikan manfaat nyata.
Para pakar menekankan bahwa suplemen bukan pengganti pola makan sehat. Tubuh lebih efektif menyerap nutrisi dari makanan utuh seperti sayuran, buah, kacang-kacangan, ikan, dan biji-bijian karena kandungannya bekerja secara sinergis.
Suplemen tetap memiliki tempat penting dalam kondisi tertentu, seperti ibu hamil yang membutuhkan asam folat, orang dengan anemia yang memerlukan zat besi, atau individu dengan kekurangan vitamin D. Namun penggunaan harus berdasarkan evaluasi medis, bukan sekadar mengikuti tren.
Intinya, pendekatan terbaik untuk menjaga kesehatan tetap kembali pada pola makan seimbang, olahraga rutin, tidur cukup, dan konsultasi medis bila diperlukan. Mengonsumsi terlalu banyak suplemen tanpa dasar yang jelas justru berisiko dan belum tentu memberi manfaat seperti yang dibayangkan.





