HealthcareUpdate News

4 Penyakit Utama yang Serang Pengungsi Banjir Sumatera, Daerah Lain Wajib Waspada

Setelah banjir besar di Sumatera, ribuan pengungsi kini diserang empat penyakit utama mulai dari diare, ISPA, demam, hingga infeksi kulit, yang patut diwaspadai juga di wilayah lain yang terendam banjir.

Banjir besar yang melanda sejumlah wilayah di Sumatera bukan hanya menyebabkan kerusakan fisik, tetapi juga memicu masalah kesehatan serius di lokasi pengungsian. Krisis air bersih, penumpukan sampah, dan sanitasi yang buruk membuat para pengungsi rentan terserang penyakit. Laporan dari berbagai daerah memperlihatkan empat jenis penyakit kini mendominasi posko layanan kesehatan: diare, infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), demam, dan infeksi kulit. Kondisi ini harus menjadi peringatan bagi wilayah lain yang juga mengalami banjir.

Diare menjadi penyakit yang paling banyak dikeluhkan warga. Air banjir yang tercemar kotoran dan limbah membuat bakteri mudah menyebar, terutama ketika pasokan air bersih terputus. Anak-anak menjadi kelompok paling rentan mengalami diare berat dan dehidrasi. Banyak pengungsi terpaksa menggunakan air seadanya untuk kebutuhan harian, sementara fasilitas sanitasi rusak sehingga risiko paparan bakteri semakin tinggi.

Selain masalah pencernaan, ISPA juga mengalami lonjakan signifikan. Tempat pengungsian yang padat, lembap, dan minim ventilasi menjadi tempat ideal bagi virus dan bakteri pernapasan untuk menyebar. Debu dan endapan lumpur turut memperburuk kondisi udara. Di beberapa titik pengungsian, ratusan kasus ISPA dilaporkan hanya dalam beberapa hari. Lansia, bayi, dan penderita penyakit paru menjadi kelompok yang paling mudah mengalami perburukan.

Demam turut mendominasi keluhan kesehatan para pengungsi. Kondisi lingkungan yang kotor, aktivitas fisik berat selama evakuasi, serta stres pascabencana membuat daya tahan tubuh menurun. Banyak warga mengeluhkan demam disertai sakit kepala dan nyeri otot, yang sering kali muncul bersamaan dengan infeksi lain. Pada sebagian kasus, demam dapat menjadi tanda awal penyakit yang lebih serius jika tak segera diperiksa.

Read More  Jangan Biarkan Uang Mengendap, Begini Cara Kelola Tabungan agar Nilainya Tidak Tergerus

Infeksi kulit juga marak dialami para pengungsi. Kontak langsung dengan air banjir yang bercampur lumpur, sampah, dan kotoran menyebabkan kulit mudah mengalami iritasi, gatal-gatal, ruam, hingga infeksi bakteri dan jamur. Kondisi ini semakin parah ketika pengungsi tidak dapat mandi dengan air bersih atau mengganti pakaian basah mereka dalam waktu lama. Anak-anak menjadi kelompok yang paling banyak mengalami keluhan pada kulit.

Situasi kesehatan di Sumatera ini menjadi pengingat bahwa bahaya banjir tidak berhenti ketika air surut. Daerah lain yang saat ini juga terendam harus memahami bahwa diare, ISPA, demam, dan infeksi kulit adalah penyakit yang hampir selalu muncul dalam situasi serupa. Minimnya air bersih, kepadatan pengungsian, dan sanitasi yang buruk menjadi faktor utama munculnya wabah penyakit pascabencana.

Agar kondisi tidak memburuk, masyarakat di wilayah banjir wajib memastikan ketersediaan air bersih, menjaga kebersihan lingkungan, serta menghindari kontak langsung dengan air banjir jika tidak diperlukan. Ventilasi di lokasi pengungsian perlu diperbaiki, sementara warga yang mengalami gejala seperti diare terus-menerus, demam tinggi, batuk berat, atau infeksi kulit harus segera mendapatkan pemeriksaan medis.

Keempat penyakit ini adalah ancaman nyata. Semakin cepat masyarakat mengenal gejala dan penyebabnya, semakin besar peluang untuk mencegah lonjakan kasus seperti yang terjadi di Sumatera.

Back to top button