TechnoUpdate News

45% Konsumen Gunakan Kecerdasan Buatan untuk Berburu Promo

Menjelang Ramadan dan Idulfitri, tren belanja berubah drastis: hampir separuh konsumen kini memanfaatkan kecerdasan buatan (AI) untuk riset produk hingga mencari promo

Perubahan perilaku belanja semakin terasa menjelang Ramadan dan Idulfitri tahun ini. Studi global bersama National Retail Federation (NRF) menunjukkan, sebanyak 72% konsumen masih berbelanja di toko fisik. Namun menariknya, 45% di antaranya kini menggunakan kecerdasan buatan (AI) untuk mendukung perjalanan belanja mereka.

AI dimanfaatkan untuk melakukan riset produk (41%), menafsirkan ulasan (33%), hingga mencari penawaran terbaik (31%). Artinya, konsumen tetap datang ke toko, tetapi dengan keputusan yang lebih matang dan preferensi yang lebih terarah berkat bantuan teknologi.

Fenomena ini menandai perubahan ekspektasi konsumen. Belanja tidak lagi sekadar aktivitas fisik, tetapi pengalaman terintegrasi antara kanal offline dan digital. Pembeli ingin melihat dan mencoba produk secara langsung, namun sebelumnya sudah melakukan riset mendalam melalui perangkat digital.

Tak hanya memengaruhi tahap pra-pembelian, AI juga mengubah standar pengalaman belanja. Sekitar 35% responden masih menginginkan toko yang menarik secara visual dengan proses tanpa antrean. Namun solusi berbasis AI kini hampir sama pentingnya. Satu dari tiga konsumen menginginkan super app yang mengintegrasikan berbagai layanan, 30% berharap ekosistem rumah pintar dengan personal shopper berbasis AI dan pengiriman otonom, serta 29% menginginkan kemudahan belanja lewat platform sosial.

Tren ini sangat relevan bagi Indonesia. Data International Trade Administration mencatat Indonesia sebagai pasar e-commerce terbesar di Asia Tenggara dengan kontribusi lebih dari 52% volume bisnis online ASEAN. Pada 2023, nilai pasar e-commerce Indonesia diperkirakan mencapai USD 52,93 miliar dan diproyeksikan melonjak menjadi USD 86,81 miliar pada 2028. Angka ini menegaskan bahwa transformasi digital ritel bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan.

Read More  Kemacetan Jabodetabek Semakin Parah, Kerugian Ekonomi Capai Rp 100 Triliun per Tahun

Managing Director IBM Indonesia, Juvanus Tjandra, mengatakan industri ritel Indonesia tengah memasuki fase transformatif.

“AI tidak lagi sekadar meningkatkan efisiensi, melainkan menjadi fondasi untuk membangun koneksi yang lebih mendalam, aman, dan cerdas dengan konsumen yang semakin digital. Pelaku ritel yang mengintegrasikan AI ke dalam strategi data dan pengalaman pelanggan akan menentukan era pertumbuhan berikutnya,” ujarnya.

Kontribusi sektor perdagangan, termasuk ritel, yang mencapai sekitar 12,96% terhadap PDB Indonesia menunjukkan betapa strategisnya industri ini. Dengan populasi lebih dari 280 juta jiwa dan dominasi konsumen muda yang adaptif terhadap teknologi, Indonesia menjadi pasar yang sangat prospektif.

Lalu bagaimana brand dan pelaku ritel tetap unggul di era konsumen berbasis AI?

Pertama, mendesain ulang perjalanan pelanggan dengan fokus pada momen keputusan. Retailer perlu memahami titik di mana konsumen memanfaatkan AI untuk membandingkan produk dan mencari nilai terbaik, lalu memastikan pengalaman tersebut terhubung mulus hingga transaksi.

Kedua, memanfaatkan agen AI untuk mengurangi ketidakpastian sejak awal, mulai dari pencarian promo hingga interpretasi ulasan, sehingga AI bukan hanya alat layanan, tetapi pendukung keputusan.

Ketiga, kesiapan data menjadi kunci. Sebanyak 54% eksekutif brand mengaku menghadapi tantangan integrasi lintas kanal dan sistem. Artinya, sinkronisasi informasi produk dan kebijakan harus diperkuat.

Keempat, AI harus meningkatkan relevansi tanpa menghilangkan identitas brand. Kreativitas dan keaslian tetap menjadi pembeda di tengah otomatisasi.

Kelima, investasi pada kapabilitas dan kemitraan AI sangat penting. Sebanyak 51% eksekutif menyebut keterbatasan keahlian AI sebagai tantangan utama, sehingga penguatan kompetensi internal harus berjalan beriringan dengan kolaborasi strategis.

Studi tersebut menegaskan, AI bukan sekadar pendorong produktivitas, tetapi mesin inovasi yang dapat menciptakan keunggulan kompetitif jangka panjang. Namun integrasinya harus tetap mempertahankan kedekatan budaya dan hubungan personal yang menjadi kekuatan ritel Indonesia.

Read More  Pentingnya Edukasi Digital Konten Berbahaya bagi Anak, Pelajaran dari Kasus SMA Negeri 72 Kelapa Gading

Momentum Ramadan dan Idulfitri pun bukan hanya musim belanja, tetapi juga babak baru transformasi ritel nasional menuju ekosistem yang lebih cerdas, terhubung, dan personal.

Back to top button