FintalkUpdate News

Kemenkeu Terbitkan Dim Sum Bonds Pertama Senilai Rp14 Triliun, Investor Berebut!

Kementerian Keuangan untuk pertama kalinya menerbitkan surat utang negara berdenominasi yuan (CNH) atau Dim Sum Bonds senilai sekitar Rp14 triliun, dan langsung diserbu investor.

Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Keuangan (Kemenkeu) mencetak sejarah baru di pasar global dengan menerbitkan surat utang negara (SUN) berdenominasi mata uang Chinese Renminbi (CNH), atau yang dikenal sebagai Dim Sum Bonds. Nilai penerbitan mencapai CNH 6 miliar atau sekitar Rp14 triliun berdasarkan kurs Rp2.337 per yuan.

Langkah ini menjadi bagian dari upaya pemerintah memperluas basis pembiayaan dan menjangkau investor baru di pasar Tiongkok. Penerbitan dilakukan dalam dua seri, yakni tenor lima tahun senilai CNH 3,5 miliar dengan kupon tetap 2,5 persen, dan tenor sepuluh tahun senilai CNH 2,5 miliar dengan kupon 2,9 persen. Masa penawaran dibuka 23 Oktober 2025 dan transaksi diselesaikan pada 31 Oktober 2025.

Respons pasar sangat kuat. Minat investor membludak hingga tiga kali lipat dari target penerbitan, dengan total pemesanan mencapai CNH 18 miliar. Kemenkeu menilai tingginya minat tersebut mencerminkan kepercayaan investor global terhadap stabilitas ekonomi Indonesia dan kredibilitas pengelolaan fiskal yang tetap terjaga di tengah ketidakpastian global.

Alasan pemerintah memilih pasar Tiongkok bukan hanya karena ukuran ekonominya yang besar, tetapi juga untuk mendukung upaya internasionalisasi yuan di kawasan Asia. Selain itu, diversifikasi sumber pembiayaan penting untuk mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS, sekaligus memperluas jangkauan investor Indonesia di pasar Asia Timur.

Penerbitan Dim Sum Bonds ini juga mencerminkan strategi aktif pemerintah dalam mengelola portofolio utang secara efisien. Dengan lingkungan global yang penuh ketidakpastian, instrumen dalam berbagai mata uang memberi fleksibilitas dan ketahanan pembiayaan. Obligasi ini akan tercatat di Singapore Exchange (SGX-ST) dengan format SEC-registered, menandakan penerapan tata kelola dan transparansi sesuai standar internasional.

Read More  Tokenisasi Aset, dan Masuknya Institusi Dorong Pertumbuhan Kripto di Semester II-2025

Keberhasilan penerbitan perdana ini menempatkan Indonesia di antara negara-negara Asia lain yang telah lebih dulu memanfaatkan pasar Dim Sum Bonds, seperti Korea Selatan dan Malaysia. Langkah tersebut sekaligus mempererat hubungan ekonomi dan keuangan antara Indonesia dan Tiongkok, dua kekuatan besar di kawasan Asia.

Dari sisi prospek, penerbitan Dim Sum Bonds membuka peluang baru namun juga menghadirkan risiko. Fluktuasi nilai tukar yuan terhadap rupiah bisa memengaruhi beban pembayaran di masa depan, terutama jika terjadi penguatan signifikan pada mata uang Tiongkok. Namun di sisi lain, tren penguatan yuan terhadap dolar AS justru bisa memberi keuntungan relatif bagi Indonesia dalam konteks diversifikasi valuta.

Para analis memperkirakan Kemenkeu dapat mempertimbangkan penerbitan lanjutan di pasar Tiongkok pada tahun-tahun berikutnya, terutama jika kondisi likuiditas global tetap mendukung dan biaya pinjaman dalam yuan lebih kompetitif. Dengan pasar Asia yang semakin terintegrasi dan peran Tiongkok yang terus membesar dalam keuangan internasional, Dim Sum Bonds berpotensi menjadi instrumen strategis baru bagi pembiayaan pembangunan nasional Indonesia.

Back to top button