Kasus ISPA di Jakarta Tembus Hampir 2 Juta, Ini Penyebab dan Cara Mencegahnya
Kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) di Jakarta melonjak tajam hingga hampir 2 juta kasus sepanjang 2025, menandai peningkatan signifikan dibanding tahun sebelumnya.
Dinas Kesehatan DKI Jakarta mencatat sebanyak 1.966.308 kasus ISPA terjadi sejak Januari hingga Oktober 2025. Angka ini menunjukkan lonjakan yang cukup tinggi dan menjadi perhatian serius karena menyerang hampir 20% populasi Jakarta.
Kepala Seksi Surveilans dan Imunisasi Dinas Kesehatan DKI Jakarta, Endra Muryanto, mengatakan peningkatan kasus ISPA tahun ini dipicu oleh sejumlah faktor, mulai dari polusi udara, perubahan cuaca ekstrem, serta peningkatan mobilitas masyarakat setelah musim kemarau panjang. âKualitas udara yang buruk dan paparan debu jalanan menjadi faktor utama yang memperburuk kondisi saluran pernapasan masyarakat,â ujarnya dikutip dari DetikHealth.
Selain polusi, cuaca yang tidak menentu juga membuat daya tahan tubuh masyarakat menurun, sehingga lebih rentan terserang virus penyebab ISPA, termasuk influenza, rinovirus, dan parainfluenza. Banyak warga yang beraktivitas di luar ruangan tanpa masker, terutama pada jam sibuk di kawasan padat lalu lintas, menjadi kelompok paling berisiko.
Menurut Dinkes DKI, sebagian besar penderita ISPA mengalami gejala ringan hingga sedang seperti batuk, pilek, tenggorokan gatal, dan demam, namun sebagian kecil memerlukan perawatan di rumah sakit, terutama kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, dan penderita penyakit kronis.
Pakar kesehatan paru dari RS Persahabatan, dr. Erlina Burhan, menyebut peningkatan polutan udara seperti PM2.5 dapat memperparah risiko ISPA. âPaparan polusi jangka panjang menyebabkan peradangan kronis di saluran pernapasan, membuat tubuh lebih mudah terserang infeksi virus maupun bakteri,â jelasnya.
Untuk mencegah penularan ISPA, masyarakat disarankan mengurangi aktivitas di luar ruangan saat kualitas udara buruk, menggunakan masker medis atau respirator (KN95/N95) saat beraktivitas di luar, menjaga pola makan bergizi, serta cukup istirahat. Selain itu, menjaga kebersihan tangan dan menjauhi kerumunan saat sedang batuk atau flu dapat membantu memutus rantai penularan.
Dinas Kesehatan juga mengimbau masyarakat agar tidak menyepelekan gejala ISPA. Jika gejala tidak membaik setelah tiga hari, segera periksa ke fasilitas kesehatan terdekat. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta bersama Kementerian Kesehatan saat ini terus memantau tren penyakit pernapasan dan meningkatkan edukasi publik tentang bahaya polusi serta pentingnya perilaku hidup bersih dan sehat.
Lonjakan kasus ISPA ini menjadi pengingat bahwa ancaman penyakit pernapasan di kota besar seperti Jakarta tidak bisa dianggap remeh. Kombinasi antara polusi, cuaca ekstrem, dan gaya hidup perkotaan menjadi tantangan nyata bagi kesehatan warga ibu kota.





