Safe and SecureUpdate News

Tips Aman Menempuh Perjalanan Jauh dengan Mobil Listrik, Belajar dari Rainer Zietlow yang Menyetir dari Jerman ke Bali

Perjalanan jauh dengan mobil listrik kini bukan hal mustahil, seperti yang dibuktikan Rainer Zietlow yang menempuh ribuan kilometer dari Jerman hingga Bali hanya dengan tenaga baterai.

Rainer Zietlow, pengemudi asal Jerman sekaligus pemegang berbagai rekor Guinness World Records di bidang otomotif, baru-baru ini mencatatkan pencapaian luar biasa dengan menyelesaikan perjalanan lintas benua sejauh lebih dari 17.000 kilometer dari Jerman ke Bali menggunakan mobil listrik Volkswagen ID.4 GTX.
Perjalanan itu memakan waktu sekitar lima bulan, melintasi berbagai negara dengan kondisi geografis dan infrastruktur pengisian daya yang berbeda-beda.

Bagi pemilik mobil listrik di Indonesia yang ingin melakukan perjalanan jauh seperti mudik antarkota atau ekspedisi antarprovinsi, pengalaman Zietlow ini bisa menjadi inspirasi penting. Berikut beberapa hal yang perlu dipersiapkan dan diantisipasi agar perjalanan panjang dengan kendaraan listrik tetap nyaman dan aman.

Pertama, rencanakan rute dan titik pengisian daya (charging station). Di Indonesia, jaringan SPKLU (Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum) memang semakin meluas, terutama di Pulau Jawa dan Bali, namun belum sebanyak stasiun pengisian BBM. Karenanya, penting untuk memetakan lokasi SPKLU di sepanjang rute perjalanan dan memperkirakan jarak antar titik pengisian.

Kedua, pastikan kondisi baterai optimal sebelum berangkat. Pemeriksaan meliputi kapasitas pengisian maksimum, status kesehatan baterai (state of health), serta kelengkapan kabel dan adaptor pengisian. Bagi pengguna mobil listrik baru, membawa charger portabel menjadi langkah antisipasi yang cerdas.

Ketiga, perhatikan kecepatan dan gaya berkendara. Zietlow sendiri mengatur kecepatan mobilnya agar tetap efisien, karena kecepatan tinggi dan akselerasi mendadak dapat mempercepat konsumsi daya. Berkendara dengan gaya “eco driving” terbukti mampu menambah jarak tempuh hingga 15–20 persen.

Read More  Pecah Pembuluh Darah di Otak: Ancaman Nyata, dan Cara Mencegahnya

Selain itu, manfaatkan waktu pengisian untuk istirahat dan menjaga kebugaran. Perjalanan jarak jauh menuntut fokus dan stamina tinggi, sehingga waktu charging 30–45 menit bisa dijadikan jeda untuk peregangan atau makan ringan.

Zietlow juga menyoroti pentingnya adaptasi terhadap kondisi geografis dan cuaca. Di beberapa negara dengan suhu ekstrem, kinerja baterai bisa menurun hingga 20 persen. Hal serupa dapat terjadi saat melewati daerah pegunungan atau jalan menanjak yang menguras energi lebih cepat.

Di Indonesia, pengendara mobil listrik disarankan menyiapkan aplikasi navigasi yang menampilkan titik SPKLU secara real-time seperti milik PLN Mobile, Shell Recharge, atau Charge+ untuk wilayah tertentu. Selain mempermudah pencarian lokasi pengisian, aplikasi ini juga membantu memantau ketersediaan daya di setiap stasiun.

Pengalaman Rainer Zietlow menunjukkan bahwa dengan persiapan matang, perjalanan jauh menggunakan mobil listrik tidak hanya mungkin dilakukan, tapi juga bisa menjadi simbol masa depan transportasi berkelanjutan. “Mobil listrik bukan hanya soal efisiensi energi, tapi juga tentang cara baru menjelajahi dunia tanpa meninggalkan jejak karbon,” kata Zietlow dalam keterangan resminya.

Back to top button