Ledakan di SMAN 72 Jakarta Picu Kasus Barotrauma, Dinkes DKI Jelaskan Dampak dan Penanganannya
uluhan siswa SMAN 72 Jakarta mengalami barotrauma akibat ledakan di lingkungan sekolah, kondisi medis serius akibat tekanan udara ekstrem yang merusak organ tubuh.
Ledakan di SMAN 72 Jakarta pada Kamis (6/11/2025) meninggalkan dampak serius bagi sejumlah siswa dan guru yang menjadi korban. Dinas Kesehatan DKI Jakarta melaporkan sedikitnya 28 korban dirawat di rumah sakit dengan berbagai keluhan, mulai dari gangguan pendengaran hingga sesak napas. Beberapa korban dinyatakan mengalami barotrauma, yaitu cedera yang disebabkan oleh perubahan tekanan udara mendadak.
Kepala Dinas Kesehatan DKI Jakarta, Ani Ruspitawati, menjelaskan bahwa sebagian besar korban mengalami gejala di area telinga akibat gelombang tekanan dari ledakan. âSebagian pasien mengalami keluhan nyeri telinga, rasa berdenging, hingga gangguan pendengaran sementara. Saat ini mereka telah mendapatkan penanganan sesuai standar medis dan sebagian besar dalam kondisi stabil,â ujarnya.
Menurut penjelasan medis, barotrauma terjadi ketika tekanan udara di sekitar tubuh berubah secara drastis sehingga rongga-rongga udara di dalam tubuhâseperti telinga tengah, paru-paru, dan sinusâtidak sempat menyesuaikan. Perbedaan tekanan tersebut bisa menyebabkan gendang telinga pecah, pembuluh darah pecah, atau kerusakan jaringan paru.
Mengutip keterangan dari Cleveland Clinic, barotrauma sering kali dialami oleh penyelam, penumpang pesawat, atau korban ledakan, di mana tekanan eksternal tiba-tiba meningkat atau menurun secara ekstrem. Gejalanya bervariasi, mulai dari nyeri hebat di telinga, pusing, hidung berdarah, gangguan keseimbangan, hingga dalam kasus berat menyebabkan paru-paru kolaps atau emboli udara.
Penanganan awal terhadap barotrauma harus dilakukan secara cepat. Dinas Kesehatan DKI menekankan pentingnya evakuasi segera dari lokasi kejadian dan pemeriksaan menyeluruh oleh tenaga medis. âDalam kondisi seperti ledakan, pasien tidak boleh langsung diberi tekanan tinggi atau meniup hidung untuk menyeimbangkan tekanan. Harus diperiksa oleh dokter THT untuk memastikan tidak ada robekan gendang telinga,â jelas Ani.
Setelah kondisi fisik korban ditangani, aspek psikologis juga menjadi perhatian. Menurut psikolog klinis Himpsi DKI, Ratna Puspitasari, M.Psi., korban ledakan kerap mengalami trauma emosional seperti ketakutan terhadap suara keras, mimpi buruk, atau kecemasan saat kembali ke sekolah. âPendampingan psikologis penting agar trauma tidak berkembang menjadi gangguan stres pascatrauma (PTSD),â katanya.
Untuk mencegah kejadian serupa, Dinas Kesehatan DKI Jakarta bersama Dinas Pendidikan berencana meningkatkan protokol keselamatan sekolah, termasuk pelatihan penanganan darurat, deteksi dini sumber bahan bertekanan, serta peningkatan sistem ventilasi di ruang laboratorium sekolah.
Kasus di SMAN 72 Jakarta menjadi pengingat bahwa barotrauma bukan sekadar gangguan ringan, tetapi cedera medis yang bisa berdampak jangka panjang terhadap pendengaran dan pernapasan. Pemerintah DKI menegaskan komitmennya untuk memberikan pemantauan lanjutan terhadap seluruh korban hingga benar-benar pulih.





