Pertanian Digital, Teknologi di Balik Masa Depan Bertani di Indonesia
Pertanian digital kini menjadi terobosan baru yang mengubah cara petani Indonesia mengelola lahan dan meningkatkan hasil panen melalui teknologi cerdas berbasis data.
Pertanian digital kini menjadi jalan baru bagi sektor agrikultur di Indonesia guna meningkatkan efisiensi dan produktivitas melalui teknologi cerdas berbasis data. Konsep ini melibatkan pemanfaatan sensor Internet of Things (IoT), drone, sistem monitoring secara real-time, serta aplikasi analisis yang membantu petani memantau kondisi tanah, tanaman, cuaca, serta kebutuhan nutrisi secara akurat. Berbeda dengan pertanian konvensional yang banyak bergantung pada pengalaman dan intuisi petani serta pengamatan manual, pertanian digital memungkinkan pengambilan keputusan yang lebih tepat waktu dan berbasis bukti data.
Sebagai contoh nyata, di Kabupaten Sragen, Jawa Tengah, MSMB Indonesia bekerja sama dengan Kementerian Komunikasi dan Digital Republik Indonesia (Komdigi) melalui program Tani Digital menggunakan teknologi IoT untuk penyiraman dan pemupukan otomatis di lahan hortikultura. Menteri Komdigi Meutya Hafid menegaskan bahwa penerapan teknologi digital di pertanian akan meningkatkan produktivitas petani dan mengurangi penggunaan pupuk hingga 40-50 persen.
Manfaat yang bisa diraih petani dan pelaku usaha agrikultur lewat pertanian digital cukup besar. Pertama, efisiensi biaya: penggunaan pupuk dan air bisa ditekan melalui sensor yang mendeteksi secara presisi kebutuhan tanaman. Kedua, peningkatan hasil panen dan kualitas: dengan nutrisi dan irigasi yang optimal, tanaman bisa tumbuh lebih baik dan hasilnya lebih kompetitif. Ketiga, manajemen risiko yang lebih baik: kondisi lahan dan tanaman dapat dipantau real-time sehingga hama, penyakit, atau perubahan cuaca ekstrem bisa diantisipasi lebih dini. Keempat, bagi pelaku usaha agritech dan pemasok teknologi, ini membuka peluang bisnis baru — seperti pengembangan platform pertanian cerdas, sistem monitoring digital, dan layanan konsultasi untuk petani.
Tantangan penerapan pertanian digital di Indonesia masih nyata. Infrastruktur digital di banyak pedesaan belum merata (akses internet, jaringan seluler, sensor murah), dan literasi teknologi petani juga perlu ditingkatkan agar mereka mampu menggunakan sistem digital dengan optimal. Pendampingan, pelatihan, serta dukungan kebijakan menjadi kunci agar teknologi ini tidak hanya terjadi secara sporadis di perkotaan atau percontohan, tetapi dapat menyentuh seluruh wilayah agrikultur di Indonesia.
Transformasi menuju pertanian digital sangat relevan dengan agenda ketahanan pangan nasional. Dengan teknologi, sektor pertanian tidak hanya menjadi lebih modern tetapi juga lebih menarik untuk generasi muda, membalikkan anggapan bahwa bertani adalah pekerjaan yang “kuno”. Penerapan yang sukses seperti di Sragen menjadi contoh bahwa Indonesia siap memasuki era baru agrikultur.





