HealthcareUpdate News

Menkes Apresiasi Tren Jajanan Kukusan Viral, Benarkah Lebih Sehat?

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menyambut antusias tren jajanan kukusan yang viral di media sosial dan mendorong masyarakat mengadopsi pola makan lebih sehat.

ren jajanan berbasis kukusan dan rebusan kini menjadi favorit terutama di kalangan generasi muda. Menkes Budi Gunadi Sadikin menyatakan kegembiraannya terhadap fenomena ini. “Saya senang banyak di TikTok, jutaan yang viral, lebih banyak makan-makanan sehat, sarapan sehat,” ungkapnya.

Menurut pantauan media, jajanan kukusan seperti ubi, singkong, pisang, talas, labu kuning, jagung dan kacang kini mudah ditemukan di area pekerja maupun dekat stasiun. Penjual pun mencatat peningkatan pembeli yang mencari menu kukus sebagai alternatif camilan atau sarapan cepat.

Mengapa metode kukus dianggap lebih sehat? Ahli gizi menjelaskan bahwa dibandingkan metode penggorengan atau memasak dengan banyak minyak dan santan, teknik kukus atau rebus membantu mengurangi asupan lemak tambahan, serta mempertahankan lebih banyak nutrisi dan tekstur alami pada bahan makanan. Sebuah ulasan menyebut bahwa memasak dengan uap, seperti kukus, dapat mempertahankan kandungan antioksidan dan vitamin yang lebih baik dibandingkan “direbus penuh” atau digoreng.

Meski demikian, para pakar gizi mengingatkan bahwa metode kukus bukan jaminan otomatis bahwa makanan tersebut “langsung menjadi sehat” jika bahan, porsi atau topping masih mengandung gula tinggi, garam, minyak atau karbohidrat berlebih. Spesialis gizi klinik Ardian Sandhi Pramesti menekankan bahwa “menu sarapan berbasis rebusan atau kukusan bisa menjadi pilihan yang lebih sehat â€Ĥ namun yang penting adalah porsi, keseimbangan gizi, dan frekuensi konsumsi.”

Dalam pernyataannya, Menkes juga menyampaikan bahwa pola makan sehat harus mencakup semua makro nutrien: “Karbohidrat kompleks, buah, serat, juga protein nabati,” ujarnya.

Read More  Tren Swamedikasi di Indonesia: Praktis, Tapi Apa Risikonya?

Tren kukusan ini pun membuka peluang bagi pelaku usaha kuliner untuk mengembangkan menu bergizi dan menarik, sekaligus mendukung upaya nasional dalam menurunkan prevalensi penyakit tidak menular (PTM) seperti obesitas dan diabetes. Ke depan, kombinasi antara inovasi jajanan lokal, kampanye gizi, dan penyuluhan konsumen dapat memperkuat manfaat positif dari perubahan kebiasaan makan ini.

Dengan semakin populernya jajanan kukusan dan dukungan pemerintah, masyarakat diharapkan tidak hanya mengikuti tren, tetapi menjaga kualitas bahan, metode memasak, serta menjaga keseimbangan gizi agar perubahan kebiasaan makan benar-benar memberikan manfaat bagi kesehatan.

Back to top button