Makanan Ultra-Proses Bisa Tingkatkan Risiko Kanker Usus pada Usia Muda
Penelitian terbaru menunjukkan konsumsi makanan ultra-proses secara berlebihan dapat meningkatkan risiko kanker usus besar pada orang berusia muda.
.
.Para ilmuwan di Tufts University dan Harvard T.H. Chan School of Public Health menemukan bahwa pola makan tinggi makanan ultra-prosesâseperti makanan cepat saji, minuman manis dalam kemasan, sosis, nugget, mi instan, hingga roti tawar industriâberkaitan dengan meningkatnya kasus kanker usus besar pada orang berusia di bawah 50 tahun. Temuan ini menambah kekhawatiran global terkait pola makan modern yang banyak didominasi produk olahan praktis.
Penelitian ini menganalisis data lebih dari 200 ribu partisipan selama dua dekade melalui Nursesâ Health Study dan Health Professionals Follow-Up Study. Para peneliti membandingkan pola makan responden dengan jumlah kasus kanker usus besar yang muncul selama periode pemantauan. Hasilnya, partisipan yang paling sering mengonsumsi makanan ultra-proses memiliki risiko hingga 30% lebih tinggi mengalami kanker usus besar sebelum usia 50.
Para ahli menjelaskan bahwa makanan ultra-proses tidak hanya mengandung gula tambahan, lemak jenuh, dan garam dalam jumlah tinggi, tetapi juga diproduksi dengan aditif sintetis, pemanis buatan, serta proses industri yang dapat mengganggu kesehatan usus. Makanan seperti ini biasanya rendah serat, padahal serat berperan besar dalam menjaga pencernaan dan mencegah pertumbuhan sel abnormal di usus.
Dr. Fang Fang Zhang, peneliti utama studi, mengatakan bahwa peningkatan kasus kanker usus besar pada usia muda kemungkinan terkait perubahan pola makan dan gaya hidup satu dekade terakhir. âKita hidup di era makanan instan dan serba cepat. Banyak orang tidak sadar bahwa konsumsi makanan ultra-proses setiap hari dapat memicu peradangan kronis dan perubahan mikrobiota usus,â ujarnya.
Selain itu, pakar kesehatan menilai bahwa kanker usus besar yang muncul pada usia muda sering kali terlambat dideteksi karena kelompok usia ini jarang menjalani skrining rutin. Kombinasi antara pola makan buruk dan deteksi lambat membuat risiko komplikasi meningkat.
Para peneliti pun menekankan pentingnya meningkatkan kesadaran masyarakat, terutama generasi muda, untuk mulai membatasi konsumsi produk ultra-proses seperti burger cepat saji, keripik kemasan, biskuit manis, minuman boba yang tinggi gula, cereal manis, hot dog, dan sosis olahan. Sebagai gantinya, masyarakat dianjurkan meningkatkan asupan buah, sayuran, biji-bijian utuh, ikan, dan protein segar.
Penelitian ini mendukung upaya global untuk menyoroti dampak jangka panjang dari makanan ultra-proses terhadap kesehatan. Meski masih dibutuhkan studi lanjutan, para ahli sepakat bahwa langkah paling aman adalah mulai mengurangi konsumsi makanan olahan dan kembali ke pola makan alami.
.





