HealthcareUpdate News

Warna dan Bentuk Kuku Ungkap Kesehatan Tersembunyi

Perubahan warna, tekstur, dan bentuk kuku ternyata bisa menjadi tanda awal berbagai masalah kesehatan yang sering tidak disadari.

Kuku jari tidak sekadar aksesoris tubuh — secara medis, perubahan warna, tekstur, atau bentuk kuku bisa menjadi sinyal kondisi kesehatan yang tersembunyi. Menurut artikel Kompas, kuku yang berubah warna bisa menandakan masalah serius dalam tubuh.

Secara biologis, kuku terdiri dari lempeng kuku (nail plate) yang terbuat dari keratin, dan di bawahnya terletak dasar kuku (nail bed) yang kaya pembuluh darah. Karena itulah warna kuku sangat dipengaruhi oleh aliran darah serta oksigenasi tubuh.

Misalnya, kuku yang terlihat pucat atau hampir putih bisa jadi pertanda anemia, karena rendahnya kadar hemoglobin membuat aliran darah kurang “merah”. Warna putih dengan tepi gelap pada kuku kadang dikaitkan dengan gangguan hati seperti hepatitis atau sirosis.

Sementara itu, kuku yang menguning tidak selalu berarti hanya infeksi jamur. Dalam konteks medis, kuningnya kuku bisa mengarah ke sindrom kuku kuning (yellow nail syndrome) yang berhubungan dengan masalah paru-paru atau limfatik, bahkan pada beberapa kasus menjadi sinyal tumor. Pada penderita diabetes, kuku kuning juga bisa menjadi salah satu gejala komplikasi, karena kadar gula tinggi memengaruhi struktur kuku.

Warna kuku kebiruan (sianosis) merupakan sinyal bahwa tubuh kekurangan oksigen: hal ini bisa menunjukkan gangguan paru-paru atau masalah jantung. Ada juga perubahan bentuk kuku yang penting diwaspadai, misalnya clubbing, yaitu ujung jari membulat dan kuku melengkung ke bawah; kondisi ini bisa terkait dengan penyakit paru, jantung, hingga masalah hati atau tiroid.

Read More  Kampung Berseri Astra Rafflesia Batang Palupuh Resmi Diluncurkan

Pada beberapa kasus, muncul garis gelap vertikal pada kuku bisa menandakan melanoma subungual, yaitu kanker kulit di bawah kuku — sinyal yang harus segera dicek oleh dokter spesialis kulit. Perubahan tekstur kuku, seperti kuku rapuh atau retak (dikenal sebagai onychorrhexis secara medis), bisa berkaitan dengan kondisi seperti anemia, hipotiroidisme, atau gangguan nutrisi.

Kuku juga dapat mencerminkan masalah ginjal kronis. Menurut laporan kesehatan, penderita penyakit ginjal bisa mengalami perubahan kuku sebagai akibat ketidakseimbangan cairan dan elektrolit dalam tubuh.

Meskipun demikian, tidak semua perubahan kuku langsung berarti penyakit berat — beberapa perubahan bisa disebabkan oleh trauma ringan, infeksi jamur lokal, atau faktor penuaan. Namun sebagai langkah pencegahan, para ahli menyarankan agar perubahan kuku yang berlangsung lama atau disertai gejala lain seperti rasa nyeri, pembengkakan, atau kelelahan diselidiki lebih lanjut oleh dokter kulit atau dokter umum.

Back to top button