HealthcareUpdate News

OCD Bisa Ganggu Hidup Sejak Dini, Eddie Murphy Beberkan Pengalamannya

Aktor Eddie Murphy mengungkap bahwa ia mengidap Obsessive-Compulsive Disorder (OCD) sejak kecil, kondisi yang kerap disalahpahami namun dapat berdampak besar pada kualitas hidup penderitanya.

Obsessive-Compulsive Disorder atau OCD merupakan gangguan mental yang ditandai oleh munculnya obsesi, yaitu pikiran atau dorongan yang berulang dan sulit dikendalikan, serta kompulsi berupa tindakan tertentu yang dilakukan untuk meredakan kecemasan. OCD bukan sekadar sifat perfeksionis atau kebiasaan ingin serba teratur, melainkan kondisi medis yang dapat mengganggu produktivitas, hubungan sosial, dan kesehatan emosional seseorang.

Dalam sebuah wawancara, Eddie Murphy blak-blakan menceritakan bahwa ia telah mengalami OCD sejak kecil. Ia mengaku kerap memiliki dorongan untuk melakukan sesuatu dengan pola tertentu agar merasa tenang, dan gejala itu sering ia anggap sebagai sifat pribadi, bukan gangguan mental. Murphy mengatakan bahwa pemahaman tentang OCD baru ia dapatkan ketika dewasa, setelah menyadari bahwa pikiran berulang dan kebutuhan berlebihan untuk memastikan segala sesuatu “benar pada tempatnya” bukanlah hal yang normal.

Untuk memberikan perspektif ilmiah, Psikiater dari Universitas Indonesia, dr. Raden Aria Prasetya, menjelaskan bahwa OCD merupakan gangguan yang melibatkan ketidakseimbangan aktivitas di bagian otak yang mengatur pengambilan keputusan, kecemasan, dan pengendalian impuls. Ia menyebut faktor genetik, neurobiologis, serta pengalaman traumatis atau penuh tekanan di masa kecil sebagai pemicu yang paling umum.

Menurut dr. Aria, gejala OCD sering tidak disadari karena awalnya muncul dalam bentuk perilaku kecil yang dianggap sepele, misalnya kebutuhan memeriksa pintu berulang kali, memastikan benda harus simetris, atau mencuci tangan berlebihan karena takut kuman. Ia menegaskan bahwa jika gejala tersebut tidak ditangani, penderita bisa mengalami kecemasan berat, sulit berkonsentrasi, menarik diri dari lingkungan, bahkan depresi.

Read More  Hasil Studi ini Redakan Gejala GERD Lebih Cepat dan Aman

Murphy mengaku pernah mengalami tekanan sosial karena harus menyembunyikan perilakunya agar tidak dianggap aneh. Ia mengatakan bahwa beban tersebut semakin terasa pada awal kariernya sebelum ia mulai terbuka mengenai kondisi kesehatan mentalnya. Pengalaman sang aktor menunjukkan bahwa OCD bisa hadir dalam tingkat ringan hingga berat, dan banyak penderitanya tidak menyadari bahwa mereka membutuhkan bantuan profesional.

Pendapat ahli lain datang dari Konsultan Psikiatri Johns Hopkins Medicine, Dr. Rachel Rabinowitz, yang menjelaskan bahwa terapi perilaku kognitif (CBT), terutama metode Exposure and Response Prevention (ERP), terbukti paling efektif menangani OCD. Ia menambahkan bahwa kombinasi terapi dan pengobatan dapat membantu menurunkan intensitas obsesi dan kompulsi sehingga penderita bisa menjalani hidup lebih stabil.

Para ahli menilai keterbukaan figur publik seperti Eddie Murphy memainkan peran penting dalam menghilangkan stigma terkait gangguan mental. Kisahnya mendorong masyarakat untuk lebih memahami bahwa OCD bukan sekadar “sifat ingin rapi”, melainkan kondisi medis yang nyata dan membutuhkan penanganan serius.

Kisah Murphy sekaligus menjadi pengingat bahwa gangguan mental dapat dialami siapa saja. Edukasi, dukungan lingkungan, dan akses ke layanan kesehatan mental yang tepat menjadi kunci agar penderita OCD bisa menjalani hidup dengan lebih sehat dan produktif.

Back to top button