Tidak Ada Perusahaan yang Kebal, CEO Google Wanti-wanti Bahaya ‘AI Bubble’
CEO Google Sundar Pichai memperingatkan bahwa ledakan investasi di AI boleh jadi menciptakan “bubble” — dan jika pecah, tak ada perusahaan, termasuk Google, yang akan kebal dampaknya.
Dalam wawancara dengan BBC pekan ini, Sundar Pichai menyebut periode sekarang sebagai “momen luar biasa” bagi kecerdasan buatan (AI) — tapi juga mengakui adanya “elemen ketidakwajaran (irrationality)” dalam lonjakan investasi dan optimisme terhadap AI.
Dengan tegas ia mengatakan: “Saya kira tidak ada perusahaan yang akan kebal, termasuk kami sendiri,” jika gelembung AI benar-benar meledak. Pernyataan ini muncul di tengah valuasi perusahaan teknologi berbasis AI yang meroket, banyak investasi besar pada infrastruktur data center dan riset AI, serta ekspektasi tinggi bahwa AI bisa mengubah banyak sektor — dari layanan hingga pekerjaan.
Apa itu “AI Bubble”?
Istilah “AI Bubble” mengacu pada situasi di mana investasi, valuasi perusahaan, dan harapan terhadap teknologi AI meningkat sangat cepat — melampaui apa yang bisa dibenarkan oleh pendapatan, adopsi, atau hasil nyata dari teknologi tersebut. Fenomena seperti ini mirip gelembung pasar pada era “dot-com” tahun 1990-an, di mana banyak perusahaan internet dinilai terlalu tinggi berdasarkan spekulasi, bukan kinerja.
Menurut Pichai, meski AI sebagai teknologi berpotensi transformatif — seperti internet dulu — “masa euforia” saat ini bisa mengandung overinvestasi, ekspektasi berlebihan terhadap manfaat, dan tekanan pasar yang tidak realistis.
Apakah Kita Sudah Masuk Era “AI Bubble”?
Banyak indikator menunjukkan bahwa industri AI memang berada dalam fase “boom”: investasi global meningkat drastis, banyak startup AI bermunculan, harga saham perusahaan teknologi melambung, dan perusahaan besar berusaha mengejar dominasi teknologi dengan merger, akuisisi, atau pengembangan produk AI masif. Situasi ini memenuhi karakteristik sebuah bubble — terutama ketika valuasi dibuat lebih berdasarkan harapan masa depan daripada kinerja saat ini.
Meski demikian, tidak semua bagian dari ekosistem AI dianggap “gelembung.” Pichai sendiri menekankan bahwa bagian dari AI yang sudah terbukti — misalnya riset mendasar, infrastruktur, dan adopsi secara produktif — punya dasar kuat. Namun, pada saat sektor ini dilekati harapan tinggi dari investor dan publik, terdapat risiko bahwa ekspektasi jauh melampaui kenyataan.
Jika “AI Bubble” Pecah — Apa yang Bisa Terjadi?
Skenario pecahnya bubble dapat membawa sejumlah dampak serius. Perusahaan yang terlalu agresif dalam investasi bisa merugi besar; proyek AI bisa dibekukan atau gagal; nilai saham jatuh; dan banyak startup yang bergantung pada pendanaan eksternal bisa bangkrut. Pekerjaan yang bergantung pada belanja teknologi besar bisa hilang atau terhenti.
Di tingkat industri, arus modal besar yang dialokasikan ke AI bisa surut: proyek riset melambat, inovasi tertunda, dan kepercayaan investor melemah. Bagi masyarakat luas, dampaknya bisa terasa lewat: harga layanan/produk berbasis AI mungkin melonjak saat hype, lalu turun atau hilang saat bubble meledak; potensi disrupsi lapangan kerja bisa meningkat — terutama bagi pekerja yang baru beralih ke ekosistem AI karena harapan besar.
Pichai mengingatkan bahwa AI tetap adalah teknologi “paling mendalam” yang pernah dibuat manusia — tetapi masyarakat perlu bersikap realistis. Pengguna disarankan tidak “menelan bulat-bulat” hasil AI, melainkan menggabungkannya dengan sumber data dan verifikasi manusia.





