HealthcareUpdate News

Waspada Penyakit Pasca Banjir Besar di Sumatera, Begini Cara Mencegahnya

Banjir besar yang melanda sebagian Sumatera dan sejumlah daerah lain di Indonesia memicu potensi lonjakan penyakit, sehingga masyarakat diminta meningkatkan kewaspadaan dan langkah pencegahan.

Banjir besar yang menerjang sejumlah wilayah di Sumatera sepanjang akhir November 2025 tidak hanya merusak rumah, jembatan, dan fasilitas umum, tetapi juga memicu kekhawatiran munculnya berbagai penyakit pasca bencana. Kementerian Kesehatan mengingatkan bahwa dalam dua hingga tiga minggu setelah banjir surut, risiko penyebaran penyakit biasanya meningkat tajam karena air kotor, genangan yang tidak kunjung hilang, dan lingkungan yang lembap.

Menurut para ahli kesehatan masyarakat, terdapat tiga kelompok penyakit yang paling sering muncul pasca banjir: penyakit akibat air tercemar seperti diare dan leptospirosis, penyakit yang ditularkan melalui vektor seperti demam berdarah, serta infeksi saluran pernapasan yang dipicu oleh kondisi pengungsian yang padat.

1. Diare dan penyakit pencernaan
Air kotor yang bercampur limbah, sampah, serta bangkai hewan dapat mencemari sumber air bersih warga. Kondisi ini membuat risiko diare meningkat drastis, terutama pada anak-anak. Kemenkes menekankan pentingnya memastikan air yang digunakan untuk minum telah dimasak hingga mendidih serta menghindari mengonsumsi makanan yang tidak tertutup rapat.

2. Leptospirosis akibat air banjir
Leptospirosis—penyakit yang disebabkan bakteri dari urine tikus—menjadi ancaman serius setelah banjir. Bakteri mudah masuk melalui luka kecil di kulit atau selaput lendir saat seseorang berjalan di air banjir tanpa alas kaki. Masyarakat disarankan menggunakan sepatu bot atau pelindung kaki saat membersihkan rumah dan segera memeriksakan diri jika mengalami demam mendadak, nyeri otot, atau mata memerah.

Read More  Tips Aman Menempuh Perjalanan Jauh dengan Mobil Listrik, Belajar dari Rainer Zietlow yang Menyetir dari Jerman ke Bali

3. Demam berdarah dengue (DBD)
Setelah air surut, genangan kecil di sekitar rumah justru menjadi tempat ideal bagi nyamuk Aedes aegypti berkembang biak. Pengalaman dari banjir-banjir besar sebelumnya menunjukkan peningkatan kasus DBD biasanya terjadi dua sampai empat minggu setelah banjir surut. Langkah 3M—menguras, menutup, dan mengubur barang bekas—menjadi kunci utama pencegahan.

4. Infeksi saluran pernapasan (ISPA)
Ruang pengungsian yang padat, lembap, dan minim ventilasi membuat penyakit pernapasan seperti ISPA dan pneumonia lebih mudah menyebar. Anak-anak dan lanjut usia merupakan kelompok paling rentan. Ventilasi yang baik, masker, serta kebersihan lingkungan pengungsian dapat memperkecil risiko penularan.

Selain itu, pemerintah daerah diminta mempercepat distribusi logistik kebersihan seperti sabun, disinfektan, obat nyamuk, dan air bersih. Para relawan kesehatan juga mengimbau warga tetap menjaga pola makan, istirahat yang cukup, serta tidak menunda memeriksakan keluhan kesehatan meski tampak ringan.

Banjir besar yang melanda Sumatera Barat, Riau, Aceh, dan beberapa daerah di Jawa serta Kalimantan menjadi pengingat bahwa bencana hidrometeorologi tidak hanya berdampak pada kerusakan fisik, tetapi juga berpotensi memicu krisis kesehatan. Antisipasi sejak dini menjadi langkah penting untuk mencegah lonjakan penyakit pasca bencana.

Back to top button