WHO Rilis Rekomendasi Bersyarat Penggunaan Terapi GLP-1 untuk Obesitas
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) resmi mengeluarkan rekomendasi bersyarat penggunaan terapi GLP-1—termasuk liraglutide, semaglutide, dan tirzepatide—untuk membantu penanganan obesitas pada orang dewasa.
Di ruang tunggu sebuah klinik di Jakarta, seorang pasien berusia 42 tahun menunggu konsultasi untuk masalah berat badan yang tak kunjung turun meski ia sudah mencoba diet ketat dan olahraga rutin selama bertahun-tahun. Kisah seperti ini kerap terdengar: usaha keras, harapan besar, namun hasil yang minim. Untuk banyak orang dengan obesitas, rutinitas gaya hidup saja tidak selalu cukup — dan itulah salah satu alasan mengapa rekomendasi terbaru World Health Organization (WHO) menarik perhatian global.
WHO pada 1 Desember 2025 menerbitkan panduan global pertama tentang penggunaan terapi berbasis GLP-1 — meliputi obat seperti liraglutide, semaglutide, dan tirzepatide — sebagai pilihan pengobatan jangka panjang bagi orang dewasa dengan obesitas, dengan syarat tertentu. Rekomendasi itu bersifat bersyarat karena meskipun bukti menunjukkan obat-obat ini efektif menurunkan berat badan dan memperbaiki indikator metabolik, masih ada ketidakpastian tentang efek jangka panjang, biaya, dan kesiapan sistem kesehatan. Organisasi Kesehatan Dunia+1
Secara medis, GLP-1 (Glucagon-Like Peptide-1) bekerja dengan meniru hormon yang mengatur nafsu makan dan pengosongan lambung sehingga porsi makan berkurang. Uji klinis menunjukkan penurunan berat badan signifikan pada banyak peserta — angka rata-rata penurunan bisa berkisar belasan persen dari berat badan awal dalam protokol dosis optimal — namun hasil tersebut harus dilihat bersama dengan catatan penting: penghentian terapi sering menyebabkan beberapa pasien mengalami kenaikan berat kembali, dan data keselamatan jangka panjang masih terbatas. WHO menekankan bahwa pengobatan obat perlu diintegrasikan dengan intervensi pengaturan pola makan, aktivitas fisik, serta dukungan perilaku. Organisasi Kesehatan Dunia
Di Indonesia, urgensi soal ini nyata. Data pemerintah menunjukkan tren obesitas yang meningkat; laporan resmi menyebut prevalensi obesitas orang dewasa mencapai belasan persen dan terus naik dalam beberapa tahun terakhir, membuat beban penyakit tidak menular semakin berat. Angka-angka ini menegaskan kebutuhan strategi pengendalian obesitas yang lebih komprehensif — dari pencegahan hingga penatalaksanaan medis bagi yang sudah terdampak. SDGs Bappenas
Para pakar di Tanah Air menyambut rekomendasi WHO dengan berhati-hati. Perhimpunan Dokter Gizi Klinik Indonesia (PDGKI) menilai bahwa tatalaksana obesitas harus seragam di fasilitas kesehatan, dan terapi obat hanyalah salah satu komponen jika memang diperlukan klinis. PDGKI menekankan pentingnya pedoman nasional yang jelas agar penanganan terstandar dan akses merata. Pakar endokrinologi dan penyakit dalam juga mengingatkan bahwa obat bukan pengganti perubahan lingkungan dan kebijakan yang mendorong pola makan sehat serta aktivitas fisik. ANTARA News
Manfaat yang bisa diharapkan dari adopsi terukur GLP-1 antara lain penurunan berat badan yang nyata pada pasien terpilih, perbaikan profil metabolik (seperti kontrol gula darah pada pasien dengan risiko diabetes), dan potensi penurunan komplikasi jangka panjang jika dipasangkan dengan intervensi lain. Namun pemerintah dan penyedia layanan kesehatan harus mempertimbangkan beberapa risiko dan tantangan: efek samping gastrointestinal yang relatif umum, kebutuhan pemantauan medis berkala, biaya obat yang tinggi, serta risiko munculnya pasar produk palsu atau penyalahgunaan bila permintaan melonjak. WHO bahkan memperingatkan bahwa tanpa kebijakan akses yang hati-hati, obat-obatan ini justru dapat memperlebar kesenjangan kesehatan karena kelompok mampu mendapat akses sementara kelompok rentan tertinggal.





