Kenali Tanda Tubuh “Over Limit” Saat Lari, Sebaiknya Berhenti Sebelum Kolaps
Dokter mengingatkan: jika tubuh memberi sinyal batasnya saat berlari — seperti napas berat, jantung berdebar, atau pusing — sebaiknya segera berhenti, jangan dipaksakan agar tidak terjadi kolaps atau serangan jantung.
Dokter memperingatkan agar pelari peka terhadap sinyal tubuh saat berlari — mulai dari napas berat, detak jantung tidak wajar, hingga pusing — sebagai tanda bahwa tubuh sudah melewati batas aman, dan sebaiknya segera berhenti sebelum terjadi kolaps.
Olahraga lari dikenal luas sebagai cara menjaga kebugaran tubuh. Namun di balik manfaatnya itu, ada risiko serius apabila pelari memaksakan kondisi fisik saat tubuh sudah memberi sinyal bahwa batas telah terlampaui. Beberapa kasus kematian mendadak di ajang lari maupun jogging menunjukkan bahwa risiko seperti henti jantung mendadak bukan sekadar mitos.
Menurut dokumen medis, henti jantung mendadak bisa dipicu oleh aritmia jantung, penyempitan pembuluh darah, atau kelainan jantung struktural — bahkan pada pelari yang sebelumnya terlihat sehat.
Narasumber dari dunia medis menekankan pentingnya mengenali “alarm tubuh” sebelum melanjutkan lari. “Jika merasa ada gejala seperti napas yang berat, dada terasa tidak nyaman, atau jantung berdebar tak wajar — segeralah berhenti dan periksakan diri ke dokter. Jangan terus dipaksakan,” ujar dr. Iwan Wahyu Utomo, SpJP, dokter jantung dan pembuluh darah.
Tanda-tanda yang harus diwaspadai antara lain nyeri atau ketidaknyamanan di dada; detak jantung melesat atau berdebar tidak normal; sesak napas meskipun kecepatan lari belum ekstrem; pusing atau hampir pingsan; dan kelelahan yang tiba-tiba.
Selain itu, faktanya lari ekstrem — terutama jika dilakukan tanpa evaluasi kesehatan — kerap menjadi pemicu masalah kardiovaskular. Banyak pelari muda maupun dewasa yang tidak sadar memiliki kondisi jantung berisiko, dan ketika dipaksa berlari intens, tubuh bisa “kolaps”.
Pencegahan menjadi kunci: sebelum memulai lari — terutama jarak jauh atau intensitas tinggi — sangat disarankan melakukan pemeriksaan jantung dan kesehatan secara menyeluruh, terutama bagi mereka yang berusia 35 tahun ke atas, memiliki riwayat hipertensi, kolesterol, atau faktor risiko lain.
Selama berlatih, pelari juga harus memperhatikan tubuh: bila muncul tanda ketidaknyamanan, sebaiknya hentikan lari, istirahat, hidrasi, dan bila perlu segera konsultasi ke profesional medis. Kombinasi antara persiapan, kesadaran diri, dan respons cepat terhadap sinyal tubuh dapat membuat lari tetap aman — bukan malah membahayakan.
Lari memang menyehatkan, tetapi bukan berarti tubuh boleh dipaksakan tanpa batas. Dengarkan tubuh, hormati batasnya — sebelum langkah sehat berubah tragis.





