FintalkUpdate News

Adu Kuat Pendapatan Per Kapita Ibu Kota ASEAN, di Mana Posisi Jakarta?

Pendapatan per kapita Jakarta pada 2024 mencapai US$ 21.726, masih tertinggal jauh dari Singapura dan Kuala Lumpur, namun unggul dibanding Manila dan Vietnam.

Pendapatan per kapita Jakarta pada 2024 tercatat sebesar US$ 21.726 atau setara sekitar Rp 344,35 juta per tahun, mencerminkan kapasitas ekonomi ibu kota sebagai pusat aktivitas jasa, perdagangan, dan industri nasional. Meski angka tersebut menunjukkan kinerja ekonomi yang relatif kuat di kawasan Asia Tenggara, jaraknya masih cukup lebar jika dibandingkan dengan ibu kota negara tetangga yang telah lebih dulu menjadi pusat finansial regional.

Jika disejajarkan dengan Singapura, kesenjangannya terlihat sangat mencolok. Negara kota tersebut mencatat pendapatan per kapita sekitar US$ 90.674 pada 2024, menjadikannya salah satu wilayah dengan tingkat pendapatan tertinggi di dunia. Struktur ekonomi Singapura yang didominasi sektor jasa keuangan global, teknologi, dan perdagangan internasional bernilai tambah tinggi membuat jarak tersebut sulit dikejar dalam waktu singkat.

Sementara itu, Kuala Lumpur juga masih berada di atas Jakarta dengan pendapatan per kapita sekitar US$ 29.774. Sebagai pusat pemerintahan dan ekonomi Malaysia, Kuala Lumpur diuntungkan oleh industrialisasi yang lebih matang, basis manufaktur ekspor, serta integrasi kuat dengan rantai pasok global. Perbandingan ini menunjukkan bahwa Jakarta masih menghadapi tantangan besar untuk mempersempit kesenjangan produktivitas dengan pusat-pusat ekonomi utama di kawasan.

Meski demikian, posisi Jakarta tetap relatif unggul jika dibandingkan dengan Manila, Filipina, yang mencatat pendapatan per kapita sekitar US$ 9.420 pada 2024. Jakarta juga berada jauh di atas Vietnam, yang secara nasional memiliki PDB per kapita sekitar US$ 4.017 pada periode yang sama. Hal ini menegaskan peran Jakarta sebagai lokomotif ekonomi domestik Indonesia dan salah satu kota dengan output ekonomi terbesar di Asia Tenggara.

Read More  YouTube Bayar Kreator Rp1.642 Triliun, Masihkah Profesi YouTuber Menjanjikan?

Perbedaan capaian pendapatan per kapita ini mencerminkan karakter ekonomi masing-masing wilayah. Jakarta ditopang oleh dominasi sektor jasa, konsentrasi investasi, dan aktivitas bisnis bernilai tambah menengah hingga tinggi. Namun, peningkatan produktivitas tenaga kerja, diversifikasi sektor ekonomi, serta perbaikan kualitas sumber daya manusia masih menjadi tantangan utama agar Jakarta mampu mendekati level kota-kota global seperti Singapura dan Kuala Lumpur.

Angka pendapatan per kapita juga menjadi indikator penting untuk membaca daya beli dan standar hidup masyarakat. Dengan posisi yang masih berada di bawah dua ibu kota utama ASEAN, Jakarta dihadapkan pada tantangan struktural untuk memastikan pertumbuhan ekonomi yang lebih inklusif, sekaligus meningkatkan kualitas hidup warganya di tengah biaya hidup yang terus meningkat.

Data pendapatan per kapita dalam tulisan ini dihimpun dari berbagai sumber resmi dan dapat diverifikasi. Angka pendapatan per kapita DKI Jakarta tahun 2024 sebesar US$ 21.726 merujuk pada olahan data Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) per kapita yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi DKI Jakarta dengan konversi kurs rata-rata tahunan. Sementara itu, data pendapatan per kapita Singapura dan Vietnam mengacu pada indikator GDP per capita (current US$) yang dirilis Bank Dunia (World Bank). Adapun data Kuala Lumpur dan Manila bersumber dari publikasi resmi lembaga statistik nasional masing-masing negara dan laporan ekonomi kawasan Asia Tenggara.

Back to top button