Lebih Berbahaya Mana, Pecah Ban Depan atau Belakang? Ini Risiko yang Perlu Diketahui Pengendara
Insiden ban mobil pecah merupakan momok bagi pengendara karena bisa memicu hilangnya kendali, tetapi antara pecah ban depan dan belakang punya implikasi berbeda terhadap stabilitas kendaraan dan keselamatan di jalan.
Pecah ban saat berkendara — terutama di kecepatan tinggi seperti di jalan tol — bisa menjadi situasi darurat yang sangat berbahaya. Baik ban depan maupun ban belakang sama-sama berpotensi membuat kendaraan tidak stabil dan memicu kecelakaan, tetapi efeknya terhadap kendali mobil berbeda dan pengemudi perlu memahami risikonya untuk mengambil tindakan yang aman.
Menurut data keselamatan lalu lintas internasional, tire blowouts atau kegagalan ban menyumbang sekitar 2 % dari seluruh kecelakaan kendaraan bermotor, dengan ribuan insiden yang terjadi setiap tahun dan ratusan kematian di Amerika Serikat saja akibat keterlibatan ban gagal fungsi dalam kecelakaan lalu lintas.
Ban depan secara langsung berkaitan dengan fungsi kemudi dan arah kendaraan. Ketika ban depan meletus atau pecah secara tiba-tiba, arah mobil cenderung terseret ke sisi ban yang rusak, membuat setir terasa tarik dan pengemudi harus berupaya keras mengendalikan laju serta arah kendaraan agar tidak keluar jalur. Situasi ini sangat berbahaya ketika kendaraan melaju di kecepatan tinggi karena respon salah atau panik bisa memperburuk kondisi.
Sementara itu, pecah ban belakang biasanya menimbulkan gejala yang berbeda. Kendaraan cenderung menjadi tidak seimbang dan bagian belakang dapat bergoyang atau fishtail, yang membuat mobil sulit diprediksi dan mengendalikan arah laju menjadi jauh lebih rumit. Dalam banyak kasus, hilangnya traksi di ban belakang justru lebih sulit diperbaiki secara instan karena pengemudi tidak lagi memiliki kontrol penuh melalui kemudi.
Statistik juga menunjukkan bahwa pecah ban bisa menyebabkan kondisi kecelakaan yang serius. Sebuah studi lama di jaringan jalan bebas hambatan menunjukkan bahwa dalam beberapa kategori kecelakaan, sekitar 6,7 % dari semua kecelakaan yang menimbulkan cedera atau kerusakan properti disebabkan oleh pecah ban, dan insiden blowout terjadi cukup sering pada ban belakang dalam kendaraan yang lebih besar atau van.
Penyebab umum ban pecah termasuk tekanan angin yang tidak sesuai, keausan ban yang ekstrem, benturan dengan lubang jalan, serta kendaraan yang membawa beban berlebih. Under-inflated tires — ban dengan tekanan udara kurang — terutama rentan terhadap blowout, karena gaya gesek dan panas meningkat ketika tekanan kurang dari standar pabrikan. Perawatan rutin seperti pemeriksaan tekanan udara, rotasi ban secara berkala, serta mengganti ban yang sudah menipis merupakan langkah penting untuk mengurangi risiko pecah ban, sekaligus menjaga keselamatan pengemudi dan penumpang di jalan.





