Stunting Masih Mengintai Satu dari Lima Anak Indonesia, Ini Fakta dan Upaya Pencegahannya
Stunting masih menjadi tantangan serius pembangunan manusia di Indonesia, dengan prevalensi nasional mencapai 19,8 persen atau satu dari lima bayi, perlu upaya kolaboratif dan berkelanjutan untuk mencegah dampak jangka panjangnya.
Stunting masih menjadi tantangan besar dalam pembangunan manusia di Indonesia. Data Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2024 menunjukkan prevalensi stunting nasional mencapai 19,8 persen, atau sekitar satu dari lima bayi mengalami gangguan pertumbuhan. Kondisi ini tidak hanya berdampak pada tinggi badan, tetapi juga berpengaruh langsung terhadap perkembangan otak, kesehatan jangka panjang, hingga produktivitas ekonomi di masa depan.
Para ahli menegaskan, stunting bukan persoalan yang muncul secara tiba-tiba. Masalah ini berakar sejak dini dan dipengaruhi oleh berbagai faktor yang saling berkaitan.
Salah satu faktor krusial adalah 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK), yakni sejak masa kehamilan hingga anak berusia dua tahun. Pada periode emas ini, kecukupan gizi ibu dan bayi menjadi penentu utama tumbuh kembang anak. Kekurangan gizi kronis pada fase ini dapat menyebabkan gagal tumbuh sekaligus menghambat perkembangan otak. Menjawab tantangan tersebut, Program PASTI memberikan bantuan nutrisi pada periode 1.000 HPK dan telah menjangkau lebih dari 1.276 bayi di bawah dua tahun (baduta) serta ribuan keluarga berisiko.
Selain itu, ketidakseimbangan gizi masih menjadi persoalan serius. Kurangnya asupan protein, vitamin, dan mineral membuat anak lebih rentan mengalami stunting. Untuk meningkatkan pemahaman orang tua tentang pola makan sehat, Program PASTI mengaktifkan 127 Pos Gizi DASHAT (PGD) di tingkat desa guna memastikan keluarga memperoleh edukasi gizi sekaligus akses pangan bergizi.
Faktor lingkungan juga tak kalah penting. Sanitasi yang buruk meningkatkan risiko infeksi seperti diare, yang pada akhirnya menghambat penyerapan gizi pada anak. Menyadari hal tersebut, Program PASTI turut mendukung pembangunan jamban sehat di desa-desa dampingan, disertai edukasi kebiasaan hidup bersih dan sehat bagi masyarakat.
Di sisi lain, rendahnya literasi gizi masih menjadi tantangan. Banyak keluarga belum sepenuhnya memahami pentingnya ASI eksklusif dan MPASI bergizi. Untuk menjawab persoalan ini, PASTI memberikan pelatihan kepada 363 Tim Pendamping Keluarga (TPK) serta melibatkan 178 remaja sebagai agen perubahan dalam Kampanye Perubahan Perilaku (KPP). Para remaja tersebut telah menjangkau 2.178 remaja usia 15â19 tahun, mendorong perubahan persepsi dan perilaku terkait pemenuhan gizi sejak dini.
Upaya pencegahan stunting juga menegaskan bahwa kolaborasi lintas pihak adalah kunci utama. Stunting tidak dapat diselesaikan oleh satu institusi saja. Program PASTI merupakan hasil kemitraan antara BKKBN, Tanoto Foundation, PT AMMAN Mineral Nusa Tenggara, dan PT BCA Tbk, yang diimplementasikan oleh Wahana Visi Indonesia (WVI) di Kalimantan Barat dan Jawa Timur. Hingga Desember 2025, program ini telah menjangkau 6.808 orang dewasa, memperkuat 402 anggota Tim Percepatan Penurunan Stunting (TPPS), serta mendorong terbentuknya 26 Desa Model agar praktik baik dapat berkelanjutan. Atas kontribusinya, Program PASTI meraih empat penghargaan nasional dari BKKBN dalam kategori Mitra Pentahelix Program GENTING.
Program Director WVI, Eben Ezer Sembiring, menegaskan pentingnya peran semua pihak dalam memutus mata rantai stunting.
âAnak-anak adalah masa depan bangsa. Karena itu, setiap keluarga, desa, dan pemangku kepentingan perlu berjalan bersama untuk memastikan anak mendapatkan haknya atas makanan bergizi dan layak. Melalui pendampingan Program PASTI bersama pemerintah daerah dan masyarakat, kami membuktikan bahwa perubahan perilaku dan penguatan sistem dapat berjalan beriringan dan menghasilkan dampak besar,â ujarnya.





