WEF 2025: AI Diperkirakan Menciptakan 170 Juta Pekerjaan Baru, Kreativitas Manusia Tak Tergantikan
World Economic Forum (WEF) dalam Future of Jobs Report 2025 memprediksi artificial intelligence (AI) akan membuka 170 juta pekerjaan baru, namun keterampilan manusia yang tidak bisa digantikan mesin.
Dalam laporan Future of Jobs Report 2025, World Economic Forum (WEF) kembali memberikan gambaran bagaimana teknologi akan membentuk dunia kerja global hingga 2030. Laporan itu menunjukkan bahwa perkembangan AI, big data, dan teknologi digital tak hanya akan menghapus sejumlah pekerjaan lama, tetapi juga membuka pintu bagi sekitar 170 juta peluang kerja baru di berbagai sektor. Namun, terlepas dari potensi luar biasa teknologi ini, masih ada keterampilan manusia yang sulit â bahkan hampir mustahil â digantikan oleh kecerdasan buatan.
Menurut WEF, transformasi pasar tenaga kerja yang terjadi bukan sekadar soal jumlah pekerjaan, tetapi perubahan isi pekerjaan itu sendiri. Teknologi AI diproyeksikan menggantikan peran-peran yang bersifat rutin dan terstruktur, sementara kehadiran teknologi membuka permintaan tinggi untuk keterampilan baru yang memadukan kemampuan teknis dan manusiawi.
Salah satu alasan utama kenapa AI tidak bisa mengambil alih seluruh aspek pekerjaan adalah karena keterampilan manusia mencakup hal-hal yang tidak hanya bersifat logis atau mekanis. Kreativitas, misalnya, adalah kemampuan untuk menghadirkan ide baru, membuat cerita yang bermakna, serta menciptakan solusi orisinal yang belum pernah ada sebelumnya â sesuatu yang sampai saat ini masih berada kuat pada sisi manusia. Demikian pula, empati dan kecerdasan emosional menjadi inti interaksi manusia di banyak profesi, seperti guru, perawat, konselor, dan pemimpin tim, karena hubungan antar-manusia melibatkan nuansa yang rumit dan tidak bisa dipetakan sepenuhnya oleh algoritma.
Faktor lain yang membuat keterampilan manusia tetap berharga adalah kemampuan berpikir kritis, penilaian etis, dan pemahaman konteks budaya. Sementara sistem AI bisa menganalisis data dalam skala besar dan menghasilkan rekomendasi, mesin belum mampu memahami betul kompleksitas nilai, etika, serta implikasi sosial dari keputusan tertentu, apalagi ketika harus memutuskan hal-hal yang melibatkan moral.
WEF juga menekankan kebutuhan mendesak akan upskilling dan reskilling, karena hampir 40 % keterampilan kerja saat ini diperkirakan akan berubah pada 2030. Itu berarti adaptasi bukan hanya soal menguasai teknologi terbaru, tetapi juga mengasah kekuatan khas manusia yang saling melengkapi kemampuan mesin.
Seiring ribuan perusahaan di berbagai belahan dunia tengah mempercepat adopsi AI, pergeseran ini membuka peluang bagi pekerja yang mampu berpadu dengan teknologi, bukan sekadar digantikan olehnya. Keterampilan seperti kreativitas, empati, kolaborasi, komunikasi kompleks, serta fleksibilitas berpikir merupakan modal utama generasi pekerja masa depan untuk tetap relevan di tengah revolusi AI.
Dengan demikian, meskipun AI membawa perubahan besar pada struktur dunia kerja, laporan WEF 2025 menggarisbawahi satu pesan penting: teknologi mungkin menggantikan tugas, tetapi tidak bisa menggantikan sepenuhnya nilai dan konteks kemanusiaan yang dibawa oleh manusia.





