HealthcareUpdate News

1 dari 7 Anak di Indonesia Terpapar Timbal, Risiko Penurunan IQ dan Gangguan Kesehatan

Survei nasional terbaru mengungkap bahwa 1 dari 7 anak di Indonesia memiliki kadar timbal darah di atas ambang batas aman, yang berpotensi memengaruhi IQ, tumbuh kembang, dan kesehatan secara keseluruhan.

Temuan dari Surveilans Kadar Timbal Darah (SKTD) yang dilakukan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menunjukkan bahwa sekitar satu dari tujuh anak di Indonesia memiliki kadar timbal dalam darah lebih tinggi daripada ambang batas aman 5 mikrogram per desiliter, sebagaimana ditetapkan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan Kementerian Kesehatan. Hasil ini menjadi sinyal serius bagi kesehatan anak, karena paparan logam berat timbal berisiko menimbulkan dampak jangka panjang.

Survei yang melibatkan 1.617 anak usia 12–59 bulan di 12 lokasi berbeda mencatat prevalensi kadar timbal tinggi paling banyak ditemukan di Kabupaten Bima, Kabupaten Lamongan, dan Kota Surabaya. Temuan ini sekaligus mengidentifikasi sumber paparan timbal di lingkungan rumah tangga dan tempat tinggal anak.

Kepala Pusat Riset Kesehatan Masyarakat dan Gizi BRIN, Dr. Wahyu Pudji Nugraheni, SKM, MKes, mengatakan bahwa paparan timbal tidak hanya berhubungan dengan gangguan kecerdasan, tetapi juga berkaitan dengan risiko anemia dan stunting pada anak.

“Jadi sebenarnya untuk dampak kesehatan dari kadar timbal ini tidak hanya kecerdasan, tetapi juga anemia dan stunting,” ujar Dr. Wahyu ketika ditemui awak media di Jakarta Selatan, Rabu (21/1/2026).

Paparan logam berat timbal memang bersifat kumulatif dan tidak langsung menimbulkan gejala akut yang tampak, sehingga sering tidak disadari oleh orang tua maupun tenaga kesehatan. Akibatnya, anak yang terpapar timbal dalam jangka panjang dapat mengalami gangguan pertumbuhan, keterlambatan perkembangan saraf, bahkan menurunnya kecerdasan atau IQ.

Read More  Ada 8 Provinsi dengan Angka Kelahiran Terendah, Bonus Demografi Usai?

Direktur Kesehatan Lingkungan Kementerian Kesehatan Dr. dr. Then Suyanti, MM menambahkan bahwa paparan timbal tidak menunjukkan gejala klinis awal seperti batuk atau demam, tetapi dampaknya terlihat dalam aspek tumbuh kembang anak.

“Jadi efeknya ini jangka panjang ya, dia nggak terlihat gejala langsungâ€Ĥ memang tekaitnya adalah tumbuh kembang anak,” ujar Dr. Then.

Selain itu, survei juga mengungkapkan berbagai sumber paparan timbal yang sering tidak disangka, seperti cat tembok yang terkelupas, mainan impor, alat masak berbahan logam, dan debu tanah dari lingkungan sekitar rumah. Semua itu merupakan faktor yang memperbesar risiko anak terpapar timbal di luar pengawasan tenaga kesehatan.

Dampak paparan logam berat timbal pada anak semakin diperkuat oleh bukti ilmiah WHO yang menunjukkan bahwa timbal bisa mengganggu perkembangan sistem saraf pusat, menurunkan IQ, memperburuk kemampuan belajar, dan menimbulkan gangguan perilaku. Dampak tersebut bersifat permanen dan tidak sepenuhnya dapat diperbaiki, sehingga deteksi dini serta pencegahan paparan menjadi sangat penting.

Karena itu, survei kadar timbal darah seperti SKTD menjadi langkah penting dalam mendesain intervensi kesehatan masyarakat, termasuk edukasi keluarga, peningkatan higiene rumah tangga, serta pengetatan pengawasan bahan berisiko paparan timbal di lingkungan anak.

Back to top button