Paparan Layar Sejak Bayi Picu Risiko Cemas Saat Remaja, Ini Temuan Studinya
Sebuah studi panjang lebih dari satu dekade menemukan bahwa bayi yang terpapar layar elektronik sejak sangat dini memiliki risiko lebih tinggi mengalami kecemasan dan lambat mengambil keputusan saat mencapai usia remaja.
Paparan layar sejak usia sangat dini kembali menjadi sorotan setelah sebuah studi terbaru menemukan kaitan kuat antara kebiasaan menatap gawai pada masa bayi dengan meningkatnya risiko kecemasan saat memasuki usia remaja. Temuan ini memperkuat kekhawatiran para ahli bahwa penggunaan layar yang tidak terkontrol dapat berdampak jangka panjang pada kesehatan mental anak.
Studi tersebut berasal dari penelitian jangka panjang Growing Up in Singapore Towards healthy Outcomes (GUSTO) yang mengikuti perkembangan anak sejak lahir hingga remaja. Penelitian ini dipimpin oleh Dr. Huang Pei, peneliti dari National University Hospital (NUH) dan Yong Loo Lin School of Medicine, National University of Singapore (NUS), serta dipublikasikan di jurnal ilmiah bereputasi eBioMedicine.
Hasil riset menunjukkan, bayi yang terpapar layar dalam durasi lebih lama memiliki kecenderungan lebih tinggi mengalami gejala kecemasan, kesulitan mengelola emosi, dan masalah fokus ketika menginjak usia remaja. Paparan layar dinilai dapat memengaruhi perkembangan area otak yang berperan dalam pengendalian emosi dan respons stres, terutama pada periode emas pertumbuhan otak di awal kehidupan.
Peneliti menyoroti bahwa masa bayi seharusnya menjadi fase penting untuk membangun interaksi sosial langsung, stimulasi sensorik alami, serta ikatan emosional dengan orang tua. Ketika waktu tersebut tergantikan oleh layar, anak berpotensi kehilangan kesempatan penting dalam pembentukan kemampuan regulasi emosi dan sosial.
Dalam konteks pencegahan, para ahli menegaskan pentingnya pembatasan waktu layar sejak usia sangat dini. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan American Academy of Pediatrics (AAP) merekomendasikan bayi di bawah usia 2 tahun tidak terpapar layar sama sekali, kecuali untuk panggilan video singkat dengan anggota keluarga. Paparan layar pada fase ini dinilai berisiko mengganggu perkembangan otak, regulasi emosi, serta kemampuan interaksi sosial. Sementara itu, untuk anak usia 2 hingga 5 tahun, waktu layar disarankan tidak lebih dari satu jam per hari, dengan pendampingan orang tua dan konten yang bersifat edukatif.
Dr. Huang Pei dalam publikasinya menegaskan bahwa dampak layar bukan hanya soal durasi, tetapi juga usia saat pertama kali anak terpapar. Semakin dini paparan terjadi, semakin besar potensi gangguan psikologis yang muncul di kemudian hari. Temuan ini sekaligus menjadi pengingat bahwa efek penggunaan gawai tidak selalu langsung terlihat, tetapi dapat muncul bertahun-tahun setelahnya.
Para ahli menilai edukasi kepada orang tua menjadi kunci utama untuk menekan risiko tersebut. Pendampingan aktif, membangun rutinitas bermain tanpa gawai, membacakan buku, serta memperbanyak komunikasi tatap muka dinilai jauh lebih efektif dalam mendukung tumbuh kembang emosional anak.
Temuan ini diharapkan dapat menjadi dasar bagi orang tua dan pembuat kebijakan untuk lebih bijak dalam mengatur paparan layar sejak usia dini, demi mencegah dampak kesehatan mental jangka panjang pada generasi mendatang.





