RI Rugi Rp160 Triliun karena Pasien Pilih Berobat ke Luar Negeri, Wamenkes Ungkap Penyebabnya
Wakil Menteri Kesehatan (Wamenkes) Dante Saksono Harbuwono menyatakan Indonesia mengalami kerugian devisa sekitar Rp160 triliun akibat banyak warga memilih berobat ke luar negeri
Pemerintah Indonesia menanggapi serius fenomena pasien yang lebih memilih berobat ke luar negeri, baik untuk penyakit kronis, penanganan komprehensif, maupun prosedur medis tertentu. Wakil Menteri Kesehatan Dante Saksono Harbuwono mengungkap bahwa tren tersebut berdampak signifikan terhadap perekonomian negara.
Dalam sebuah forum kesehatan baru-baru ini, Wamenkes menyampaikan bahwa Indonesia merugi devisa hingga sekitar Rp160 triliun karena warga lebih memilih mencari layanan kesehatan di luar negeri. Angka kerugian ini mencakup biaya pengobatan, perjalanan, akomodasi, dan konsumsi selama pasien dan keluarga berada di luar negeri untuk perawatan medis.
Menurut Dante, masalah ini bukan hanya soal kualitas klinis, tetapi juga terkait dengan hospitality atau layanan pasien di dalam negeri. Ia menilai bahwa faktor kenyamanan, komunikasi dengan tenaga kesehatan, dan layanan pendukung menjadi salah satu pertimbangan utama pasien ketika memutuskan untuk berobat ke luar negeri.
âKalau layanan hospitabilitas kita kuat, bukan tidak mungkin pasien akan merasa lebih nyaman untuk berobat di dalam negeri,â terang Wamenkes. Ia menambahkan bahwa persepsi masyarakat terhadap layanan rumah sakit di luar negeri sering kali lebih positif, terutama menyangkut pengalaman pasien selama berada di fasilitas kesehatan tersebut.
Fenomena pasien berobat ke luar negeri dikenal sebagai medical tourism, di mana warga dari satu negara memilih negara lain untuk mendapatkan layanan medis yang dinilai lebih memuaskan, efisien, atau cepat. Indonesia sendiri memiliki potensi besar dalam sektor ini, namun masih menghadapi sejumlah tantangan seperti ketersediaan layanan spesialis, fasilitas kelas dunia, dan dukungan layanan non-medis yang memadai.
Kementerian Kesehatan berencana meningkatkan kualitas layanan kesehatan di dalam negeri, termasuk memperkuat aspek kepuasan pasien, keselamatan, serta komunikasi antara tenaga medis dan pasien. Upaya ini diharapkan dapat menumbuhkan kembali kepercayaan masyarakat terhadap fasilitas kesehatan lokal, sekaligus mengurangi arus âuang keluar negeriâ akibat pengobatan di luar Indonesia.
Para pakar kesehatan mengatakan bahwa perbaikan layanan tidak hanya berdampak pada pengurangan pasien yang berobat ke luar negeri, tetapi juga dapat memperkuat ketahanan sistem kesehatan nasional. Selain itu, perbaikan hospitality medis dipandang dapat menarik pasien dari luar negeri untuk berobat ke Indonesia, menjadikan negara bukan hanya konsumen layanan kesehatan global, tetapi juga penyedia layanan bagi medical tourism.
Tantangan ke depan bagi Indonesia adalah bagaimana membangun ekosistem layanan kesehatan yang berkualitas klinis tinggi sekaligus ramah pasien sehingga dapat bersaing dengan fasilitas internasional. Pemerintah, termasuk Kemenkes dan para pemangku kepentingan, diharapkan terus bekerja sama untuk mewujudkan sistem kesehatan yang tidak hanya efektif dalam diagnosis dan terapi, tetapi juga unggul dalam pengalaman pasien secara keseluruhan.





