Overwork di Indonesia Tinggi, Dokter Ingatkan Risiko Stroke dan Penyakit Jantung
BPS mencatat sekitar 40,43 persen pekerja di Indonesia mengalami kerja lembur, dan dokter menekankan pentingnya keseimbangan kerja serta kesehatan untuk mencegah risiko stroke dan penyakit jantung.
Jam kerja panjang dan budaya lembur masih menjadi realitas bagi jutaan pekerja di Indonesia. Data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat sebanyak 40,43 persen pekerja Indonesia mengalami kerja lembur (overtime), sebuah kondisi yang kian menimbulkan kekhawatiran di kalangan tenaga medis karena berisiko memicu penyakit serius.
Dokter mengingatkan bahwa kerja berlebihan dalam jangka panjang bukan sekadar menyebabkan kelelahan, tetapi juga berdampak langsung pada kesehatan jantung dan pembuluh darah. Pola kerja tanpa keseimbangan istirahat dapat memicu berbagai gangguan kardiovaskular, termasuk stroke dan penyakit jantung yang selama ini menjadi penyebab kematian tertinggi di Indonesia.
Dokter spesialis jantung dan pembuluh darah dr. Vito A. Damay, Sp.JP(K) menegaskan bahwa overwork merupakan faktor risiko yang sering kali tidak disadari oleh pekerja usia produktif.
âJam kerja yang terlalu panjang, kurang tidur, serta stres kronis dapat memicu peningkatan tekanan darah, gangguan irama jantung, hingga memperbesar risiko serangan jantung dan stroke. Kondisi ini sering kali terjadi tanpa disadari, terutama pada pekerja usia produktif,â ujar dr. Vito dalam berbagai kesempatan edukasi kesehatan kardiovaskular.
Ia menjelaskan, kerja berlebihan membuat tubuh berada dalam kondisi stres berkepanjangan. Situasi ini memicu pelepasan hormon stres seperti kortisol dan adrenalin secara terus-menerus. Dalam jangka panjang, respons tersebut dapat mempercepat kerusakan pembuluh darah dan meningkatkan risiko penyakit jantung koroner.
Kondisi ini kerap diperparah oleh gaya hidup pekerja yang tidak sehat. Pekerja yang sering lembur cenderung memiliki waktu tidur yang kurang, pola makan tidak teratur, konsumsi kafein berlebihan, serta minim aktivitas fisik. Kombinasi faktor tersebut membuat risiko penyakit tidak menular meningkat secara signifikan.
Dr. Vito yang juga aktif dalam kegiatan edukasi publik bersama Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia (PERKI) menekankan bahwa pencegahan penyakit jantung tidak bisa hanya bertumpu pada pengobatan atau olahraga sesekali.
âPencegahan tidak cukup hanya dengan olahraga atau pola makan sehat. Manajemen waktu kerja, tidur cukup, dan pengendalian stres adalah faktor kunci untuk melindungi kesehatan jantung,â ujarnya.
Fenomena tingginya angka lembur di Indonesia dinilai perlu menjadi perhatian bersama, tidak hanya bagi pekerja, tetapi juga perusahaan dan pembuat kebijakan. Sistem kerja yang mengabaikan keseimbangan antara produktivitas dan kesehatan justru berpotensi menurunkan kinerja jangka panjang serta meningkatkan beban biaya kesehatan.
Para ahli kesehatan menyarankan pekerja untuk mulai menerapkan pola kerja yang lebih seimbang, meluangkan waktu istirahat yang cukup, serta melakukan pemeriksaan kesehatan secara berkala. Deteksi dini tekanan darah tinggi, gangguan irama jantung, dan faktor risiko lainnya dinilai penting untuk mencegah penyakit berkembang ke tahap yang lebih berat.
Dengan meningkatnya kesadaran akan bahaya overwork, diharapkan budaya kerja yang lebih sehat dapat dibangun, sehingga produktivitas dan kesehatan pekerja dapat berjalan beriringan tanpa saling mengorbankan.





