Masuk Daftar Kota Termahal Dunia, Seberapa Mahal Hidup di Jakarta Dibanding Kota Lain di RI?
Jakarta berhasil masuk sebagai salah satu kota termahal di dunia menurut Global Wealth & Lifestyle Report, memicu pentingnya pemahaman biaya hidup tinggi di ibu kota dibanding kota lain di Indonesia.
Jakarta kembali mencuri perhatian global setelah masuk dalam daftar 25 kota termahal di dunia versi Global Wealth & Lifestyle Report 2025, menempati urutan ke-18 di antara metropol dunia seperti Singapura, London, dan Hong Kong.
Laporan ini menilai kota berdasarkan harga barang dan jasa premium, biaya perumahan kelas atas, biaya pendidikan dan layanan privat, serta biaya transportasi dan akomodasi. Kenaikan harga barang mewah di Jakarta bahkan meningkat sekitar 9 persen dalam setahun terakhir, walau posisi relatif kota lain ikut berubah.
Namun, penting diketahui bahwa peringkat ini tidak serta-merta menggambarkan biaya hidup rata-rata penduduk Jakarta secara umum. Laporan tersebut lebih banyak mengukur pasar gaya hidup kelas atas dan harga barang premium daripada kebutuhan pokok harian masyarakat umum.
Meski demikian, data nasional menunjukkan bahwa kehidupan di Jakarta memang cenderung lebih mahal dibandingkan banyak kota lain di Indonesia. Menurut Survei Biaya Hidup Badan Pusat Statistik (BPS), Jakarta menjadi kota dengan biaya hidup tertinggi di Indonesia, dengan konsumsi rumah tangga mencapai sekitar Rp14,88 juta per bulan.
Jumlah ini mencakup kebutuhan dasar seperti perumahan, makanan, transportasi, hingga rekreasi. Angka tersebut juga berada jauh di atas Upah Minimum Regional (UMR) Jakarta, sehingga menciptakan tantangan bagi banyak pekerja dan keluarga terutama pendatang yang baru tinggal di ibu kota.
Biaya hidup Jakarta yang tinggi dipengaruhi oleh sejumlah faktor, termasuk harga sewa properti yang terus naik, biaya pendidikan, layanan kesehatan, serta tingginya biaya barang impor yang menjadi pilihan kelas menengah atas. Kenyataan ini menjadikan Jakarta sebagai kota premium bukan hanya bagi ekspatriat dan kalangan berpenghasilan tinggi, tetapi juga memberikan tekanan pada anggaran rumah tangga masyarakat lokal.
Perbandingan dengan kota-kota Indonesia lain juga memperjelas realitas biaya hidup yang berbeda. Misalnya, biaya hidup di Jakarta jauh lebih tinggi dibandingkan di Semarang, di mana biaya hidup bulanan per individu lebih rendah sekitar 40 persen.
Meski demikian, Jakarta tetap menjadi magnet urbanisasi. Banyak penduduk dari daerah lain memilih pindah ke ibu kota karena peluang kerja, pendidikan, dan layanan yang lebih lengkap, meskipun harus menghadapi biaya hidup yang relatif lebih besar dibanding kota lainnya.
Jika dikaitkan dengan daftar kota termahal dunia, posisi Jakarta bisa dipandang sebagai cerminan tekanan ekonomi dan gaya hidup di pusat metropolis Indonesia, terutama di segmen barang premium dan layanan kelas atas. Namun bagi masyarakat umum, tekanan biaya hidup harian tetap terkait dengan kebutuhan dasar, yang meskipun tinggi, tidak selalu setinggi tolok ukur gaya hidup elit dunia.





