HealthcareUpdate News

Bukan Cuma Faktor Pekerjaan, Ini Usia yang Paling Mudah Mengalami Stres

Tekanan pekerjaan, tuntutan ekonomi, dan tanggung jawab keluarga membuat kelompok usia produktif menjadi salah satu yang paling rentan mengalami stres dibanding fase usia lainnya.

Tekanan hidup modern membuat stres menjadi masalah kesehatan mental yang semakin sering dialami masyarakat, namun risikonya ternyata tidak sama di setiap kelompok usia. Dosen Fakultas Kedokteran IPB University sekaligus psikiater, dr. Andri Wibowo, Sp.KJ, mengungkapkan bahwa ada fase usia tertentu yang secara psikologis lebih rentan mengalami stres dibanding kelompok usia lainnya.

Menurut dr. Andri, kelompok usia dewasa muda hingga paruh baya menjadi salah satu yang paling rawan. Pada fase ini, seseorang kerap menghadapi berbagai tuntutan sekaligus, mulai dari tekanan pekerjaan, target finansial, relasi sosial, hingga tanggung jawab keluarga. Kondisi tersebut membuat beban mental menumpuk dalam waktu yang relatif singkat.

“Usia produktif sering kali berada dalam fase ‘sandwich’, di mana tuntutan karier meningkat, kebutuhan ekonomi tinggi, sementara tanggung jawab keluarga juga semakin besar. Jika tidak dikelola dengan baik, ini bisa memicu stres kronis,” ujar dr. Andri dalam keterangannya.

Ia menjelaskan, stres sebenarnya merupakan respons alami tubuh terhadap tekanan. Namun, ketika berlangsung terus-menerus tanpa jeda pemulihan, stres dapat berdampak pada kesehatan fisik dan mental, seperti gangguan tidur, kecemasan berlebih, mudah marah, hingga menurunnya daya tahan tubuh.

Kelompok usia remaja juga tidak luput dari risiko. Tekanan akademik, tuntutan prestasi, serta paparan media sosial yang intens dapat memicu stres emosional pada usia muda. Sementara itu, pada kelompok usia lanjut, stres kerap muncul akibat perubahan peran sosial, masalah kesehatan, dan rasa kehilangan kemandirian.

Read More  Truk ODOL Masih Mengancam, Presiden Prabowo Minta Zero ODOL Akhir 2025

Dr. Andri menekankan pentingnya mengenali tanda-tanda awal stres sejak dini, seperti kelelahan berkepanjangan, sulit berkonsentrasi, perubahan pola tidur, hingga keluhan fisik tanpa sebab medis yang jelas. Kesadaran ini menjadi langkah awal untuk mencegah stres berkembang menjadi gangguan mental yang lebih serius.

Ia juga mengingatkan bahwa manajemen stres perlu disesuaikan dengan fase kehidupan masing-masing. Pola hidup sehat, pengelolaan waktu yang baik, menjaga relasi sosial, serta keberanian mencari bantuan profesional ketika dibutuhkan menjadi kunci menjaga kesehatan mental.

“Stres bukan tanda kelemahan, melainkan sinyal bahwa tubuh dan pikiran kita butuh perhatian. Mengenali risikonya sejak dini bisa membantu seseorang bertahan dan tetap produktif di setiap fase usia,” kata dr. Andri.

Dengan meningkatnya kesadaran akan kesehatan mental, masyarakat diharapkan lebih peka terhadap tekanan psikologis yang dialami diri sendiri maupun orang di sekitarnya, terutama pada kelompok usia yang paling rentan terhadap stres.

Back to top button