HealthcareUpdate News

Peter Pan Syndrome: Apa Itu dan Bisakah Diatasi?

Peter Pan Syndrome istilah populer untuk menggambarkan perilaku emosional dewasa yang belum matang

Istilah Peter Pan Syndrome kembali menjadi perhatian publik setelah musisi Onadio Leonardo secara terbuka mengungkapkan pengalamannya merasa mental dan emosinya seperti tertahan di usia muda, meski secara usia biologis sudah dewasa. Pengakuan ini memicu diskusi luas tentang kondisi psikologis yang kerap dikaitkan dengan kesulitan seseorang menjalani peran dan tanggung jawab sebagai orang dewasa.

Peter Pan Syndrome sebenarnya bukan diagnosis medis resmi dalam dunia psikiatri, melainkan istilah populer untuk menggambarkan pola perilaku orang dewasa yang secara emosional belum matang. Individu dengan kondisi ini umumnya menunjukkan kecenderungan menghindari tanggung jawab besar, kesulitan berkomitmen, serta ketergantungan emosional atau sosial pada orang lain.

Dokter spesialis kesehatan jiwa dr. Lahargo Kembaren, Sp.KJ, menjelaskan bahwa kondisi yang sering disebut sebagai Peter Pan Syndrome berkaitan dengan hambatan perkembangan emosional. Seseorang bisa saja berfungsi normal dalam pekerjaan atau kehidupan sosial, namun mengalami kesulitan ketika dihadapkan pada tuntutan peran dewasa seperti pengambilan keputusan jangka panjang, stabilitas relasi, hingga tanggung jawab finansial.

Pengalaman yang disampaikan Onadio mencerminkan gambaran tersebut. Ia mengaku kerap merasa lebih nyaman berada dalam pola pikir dan emosi seperti anak muda, serta membutuhkan waktu lebih panjang untuk benar-benar merasa siap menjalani tanggung jawab yang umumnya dilekatkan pada usia dewasa. Menurut para ahli, kesadaran diri seperti ini justru menjadi langkah awal yang penting dalam proses perubahan.

Dr. Lahargo menyebutkan bahwa karena bukan gangguan jiwa resmi, Peter Pan Syndrome tidak memiliki istilah “sembuh” secara medis. Namun, pola perilaku dan respons emosional yang menyertainya dapat dikelola dan diperbaiki. Pendekatan psikologis seperti psikoterapi, konseling, serta pembentukan keterampilan hidup berperan besar dalam membantu individu berkembang secara emosional.

Read More  Ini Dia Mobil yang Paling Banyak Diminati Pengunjung GIIAS Surabaya 2025

Faktor yang memengaruhi munculnya kecenderungan ini cukup beragam, mulai dari pola asuh di masa kecil, pengalaman traumatis, hingga lingkungan sosial yang terlalu permisif atau justru terlalu menekan. Pola asuh yang terlalu melindungi, misalnya, dapat membuat seseorang kurang terlatih menghadapi kegagalan dan tanggung jawab ketika dewasa.

Para ahli juga mengingatkan bahwa perilaku yang sering dilabeli sebagai Peter Pan Syndrome bisa tumpang tindih dengan kondisi lain, seperti gangguan kecemasan atau masalah kepribadian. Karena itu, evaluasi profesional tetap diperlukan agar seseorang mendapatkan dukungan yang sesuai dengan kebutuhannya.

Kesimpulannya, Peter Pan Syndrome bukanlah vonis seumur hidup. Dengan kesadaran diri, dukungan lingkungan, serta bantuan profesional bila diperlukan, seseorang tetap dapat tumbuh menjadi pribadi yang lebih matang secara emosional dan siap menjalani peran dewasa secara sehat.

Back to top button