TechnoUpdate News

Open to Work Jadi Perbincangan, Ini Manfaatnya bagi Pencari Kerja

Fitur Open to Work di LinkedIn kembali jadi perbincangan publik setelah aktris Prilly Latuconsina mengaktifkannya, memicu pro dan kontra soal makna, strategi karier, hingga stigma pencari kerja di era digital.

Fenomena Open to Work mendadak ramai diperbincangkan warganet, khususnya di media sosial, setelah Prilly Latuconsina terlihat mengaktifkan fitur tersebut di akun LinkedIn miliknya. Langkah ini menuai beragam respons, mulai dari dukungan hingga komentar sinis yang mempertanyakan relevansi fitur pencari kerja bagi figur publik yang dinilai sudah mapan.

Padahal, Open to Work merupakan fitur profesional yang disediakan LinkedIn untuk memberi sinyal bahwa seseorang terbuka terhadap peluang kerja baru. Fitur ini dapat diaktifkan secara terbatas—hanya terlihat oleh perekrut—atau secara publik dengan bingkai hijau pada foto profil.

Bagi sebagian warganet, tindakan Prilly justru dinilai sebagai langkah berani dan realistis. Di tengah dunia kerja yang semakin dinamis, status, latar belakang, atau popularitas tidak selalu menjamin keberlanjutan karier. Mengaktifkan Open to Work dipandang sebagai cara transparan untuk membuka peluang kolaborasi, proyek baru, atau tantangan profesional yang berbeda.

Secara lebih luas, fitur Open to Work menyimpan sejumlah manfaat yang relevan bagi masyarakat umum. Pertama, fitur ini meningkatkan visibilitas pencari kerja di mata perekrut. Algoritma LinkedIn cenderung memprioritaskan profil yang secara aktif menyatakan kesiapan bekerja, sehingga peluang dilirik perusahaan menjadi lebih besar.

Kedua, Open to Work membantu membangun komunikasi yang jujur dan efisien di dunia profesional. Perekrut tidak perlu menebak apakah seseorang sedang mencari pekerjaan atau tidak, sementara pencari kerja dapat menghemat waktu dengan menyaring peluang yang sesuai minat dan kompetensinya.

Read More  Menkes Apresiasi Tren Jajanan Kukusan Viral, Benarkah Lebih Sehat?

Ketiga, fitur ini turut mengikis stigma negatif terhadap pencari kerja. Aktivasi Open to Work menunjukkan bahwa mencari peluang baru bukanlah tanda kegagalan, melainkan bagian dari pengelolaan karier yang sehat. Dalam konteks ini, langkah figur publik seperti Prilly justru bisa membuka diskusi yang lebih luas soal normalisasi pencarian kerja di era digital.

Selain itu, Open to Work juga bermanfaat bagi pekerja yang ingin melakukan career switch, profesional yang terdampak pemutusan hubungan kerja, hingga lulusan baru yang sedang membangun jejaring. Dengan satu pengaturan sederhana, LinkedIn menjadi ruang yang lebih inklusif untuk bertemunya talenta dan peluang.

Pro dan kontra yang muncul menunjukkan satu hal penting: isu karier dan pekerjaan masih menjadi topik sensitif di masyarakat. Namun di tengah perubahan lanskap dunia kerja, transparansi dan adaptasi justru menjadi kunci. Open to Work bukan sekadar label, melainkan alat strategis untuk bertahan dan berkembang secara profesional.

Back to top button