Pengangguran di Jakarta Naik Jadi 349 Ribu Orang, Didominasi Laki-laki Usia Produktif
Jumlah pengangguran di Jakarta meningkat menjadi 349 ribu orang, dengan mayoritas berasal dari kelompok laki-laki usia produktif
Masalah pengangguran kembali menjadi perhatian di Jakarta. Data terbaru Badan Pusat Statistik (BPS) DKI Jakarta mencatat jumlah pengangguran di ibu kota mencapai sekitar 349 ribu orang. Angka ini menunjukkan adanya tekanan di pasar tenaga kerja, terutama bagi kelompok usia produktif.
Kepala BPS DKI Jakarta, Ade Tombak Sitorus, mengatakan bahwa berdasarkan komposisi jenis kelamin, pengangguran di Jakarta masih didominasi oleh laki-laki. Kondisi ini berkaitan erat dengan sektor-sektor pekerjaan yang mengalami perlambatan dan selama ini banyak menyerap tenaga kerja pria.
âPengangguran di DKI Jakarta secara persentase dan jumlah memang masih didominasi oleh laki-laki. Hal ini sejalan dengan struktur lapangan usaha yang banyak terdampak dinamika ekonomi,â ujar Ade dalam keterangan resminya.
Ia menjelaskan, sektor seperti konstruksi, transportasi, perdagangan, dan sebagian jasa perkotaan menjadi penyumbang terbesar tenaga kerja laki-laki. Ketika aktivitas di sektor-sektor tersebut melambat, dampaknya langsung terasa pada tingkat pengangguran.
Selain faktor sektoral, tingginya arus urbanisasi juga ikut memengaruhi. Jakarta tetap menjadi tujuan utama pencari kerja dari berbagai daerah, sementara pertumbuhan lapangan kerja formal tidak selalu sebanding dengan penambahan angkatan kerja baru. Akibatnya, persaingan kerja semakin ketat, terutama bagi pencari kerja dengan keterampilan terbatas.
Ade menambahkan, perubahan kebutuhan pasar kerja juga menjadi tantangan tersendiri. âSaat ini terjadi pergeseran kebutuhan tenaga kerja. Dunia usaha semakin membutuhkan keterampilan tertentu, termasuk penguasaan teknologi, yang belum tentu dimiliki semua pencari kerja,â katanya.
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta terus berupaya menekan angka pengangguran melalui berbagai program, mulai dari pelatihan kerja, peningkatan kompetensi berbasis kebutuhan industri, hingga penguatan kewirausahaan. Namun, tantangan di lapangan menunjukkan bahwa persoalan pengangguran tidak bisa diselesaikan secara instan.
Kenaikan jumlah pengangguran di Jakarta ini menjadi sinyal penting bahwa kebijakan ketenagakerjaan perlu dirancang lebih adaptif dan berkelanjutan. Tanpa penciptaan lapangan kerja yang inklusif dan peningkatan kualitas sumber daya manusia, tekanan sosial dan ekonomi di wilayah perkotaan berisiko terus meningkat.





