Aceh Batasi Penggunaan Gawai di Sekolah, Bisakah Diterapkan Secara Nasional?
Pemerintah Aceh menerbitkan aturan pembatasan penggunaan gawai di sekolah untuk guru dan siswa, kebijakan ini dinilai bisa menjadi model nasional.
Pemerintah Aceh melalui Dinas Pendidikan mengeluarkan edaran pembatasan penggunaan gawai atau handphone di lingkungan sekolah. Aturan ini tidak hanya berlaku bagi siswa, tetapi juga guru dan tenaga kependidikan. Kebijakan tersebut bertujuan menciptakan lingkungan belajar yang lebih fokus, disiplin, dan minim distraksi digital.
Dalam edaran tersebut, penggunaan gawai dibatasi hanya untuk kepentingan pembelajaran dan harus seizin pihak sekolah. Di luar itu, siswa tidak diperkenankan menggunakan ponsel selama jam belajar berlangsung. Guru pun diimbau memberi contoh dengan tidak menggunakan gawai untuk kepentingan pribadi saat proses belajar mengajar.
Langkah ini diambil menyusul kekhawatiran meningkatnya distraksi akibat penggunaan media sosial, gim online, hingga potensi perundungan siber di kalangan pelajar. Selain itu, pembatasan gawai juga diharapkan dapat meningkatkan interaksi sosial langsung antar siswa dan memperkuat karakter disiplin di sekolah.
Kebijakan pembatasan gawai di sekolah sebenarnya bukan hal baru. Sejumlah negara seperti Prancis dan beberapa wilayah di Asia telah lebih dulu menerapkan aturan serupa. Di Indonesia sendiri, wacana pembatasan penggunaan ponsel di sekolah kerap muncul, namun belum diterapkan secara seragam di tingkat nasional.
Pengamat pendidikan menilai kebijakan seperti yang diterapkan Aceh berpotensi menjadi model bagi daerah lain. Namun penerapannya secara nasional memerlukan regulasi yang jelas dari pemerintah pusat, termasuk mekanisme pengawasan serta fleksibilitas untuk kebutuhan pembelajaran berbasis digital.
Di sisi lain, era transformasi digital juga menuntut sekolah memanfaatkan teknologi sebagai alat belajar. Karena itu, pendekatan yang diambil perlu seimbang: bukan melarang total, tetapi mengatur penggunaan secara bijak dan terarah.
Jika diterapkan secara nasional, kebijakan pembatasan gawai di sekolah bisa menjadi langkah strategis untuk mengembalikan fokus pembelajaran. Namun keberhasilannya sangat bergantung pada konsistensi pelaksanaan, dukungan orang tua, serta kesiapan sekolah dalam menyediakan alternatif metode pembelajaran yang efektif tanpa ketergantungan pada gawai pribadi.





