TechnoUpdate News

Studi Harvard: Pakai AI di Kantor Justru Bikin Karyawan Makin Lelah

Penelitian dari Harvard menunjukkan bahwa penggunaan kecerdasan buatan (AI) di tempat kerja tidak selalu membuat pekerjaan lebih ringan — malah karyawan justru merasa lebih lelah dan terbebani.

Kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) kerap digadang-gadang sebagai solusi untuk meningkatkan produktivitas kerja. Namun studi terbaru dari Harvard Business School mengungkapkan fakta yang mengejutkan: penggunaan AI di kantor bukan otomatis membuat pekerjaan lebih efisien, justru banyak pekerja melaporkan rasa lelah mental yang meningkat setelah mengadopsi alat-alat AI dalam rutinitas mereka.

Penelitian yang dipublikasikan dalam Harvard Business Review tersebut menganalisis pengalaman ribuan profesional yang menggunakan berbagai alat AI generatif, termasuk untuk tugas-tugas seperti penulisan email, pembuatan laporan, hingga perencanaan proyek. Hasilnya menunjukkan bahwa meskipun AI membantu menyelesaikan tugas dengan cepat, banyak pekerja merasa tekanan mental dan beban kognitif semakin tinggi.

Menurut para peneliti, salah satu penyebabnya adalah peningkatan ekspektasi. Ketika AI membuat tugas tertentu menjadi lebih cepat, manajemen dan rekan kerja seringkali mengharapkan lebih banyak dari karyawan — entah itu kualitas yang lebih tinggi, respons yang lebih cepat, atau penyelesaian pekerjaan yang lebih rumit. Akibatnya, karyawan justru merasa tertekan untuk selalu “maksimal” dan tidak puas dengan hasil standar.

Profesor Robert D. Austin, salah satu penulis studi, menjelaskan bahwa AI bisa mempercepat banyak hal, tetapi juga bisa menciptakan efisiensi ilusi. “AI memang mengurangi waktu yang dibutuhkan untuk tugas tertentu, tetapi pada saat yang sama ia meningkatkan volume kerja yang dianggap ‘bisa dilakukan’, sehingga pekerja merasa harus terus menghasilkan output lebih banyak,” ujar Austin dalam wawancara penelitian.

Temuan ini menjadi pengingat penting bahwa teknologi — termasuk AI — bukan sekadar soal otomatisasi. Ada aspek manusia yang perlu diperhatikan: bagaimana teknologi mempengaruhi ritme kerja, tekanan psikologis, dan kesejahteraan mental pegawai. AI dapat mempercepat proses, tetapi juga dapat mempercepat rasa stres jika tidak diimbangi dengan prinsip kerja yang sehat.

Read More  Duta Besar Prancis Kunjungi Smart Factory Schneider Electric Cikarang Dukung Ekspansi dan Kolaborasi Industri Hijau

Selain itu, studi ini juga menemukan bahwa banyak karyawan merasa kurang pendidikan dan pelatihan dalam penggunaan AI. Tanpa pemahaman yang benar, alat AI bisa jadi justru membingungkan, memicu kesalahan, atau menambah beban kognitif, bukan sebaliknya.

Para peneliti menyarankan pendekatan lebih hati-hati dalam adopsi teknologi AI di dunia kerja. Organisasi perlu merancang kebijakan penggunaan AI yang tidak hanya mengejar produktivitas, tetapi juga mempertimbangkan kesejahteraan karyawan. Training yang tepat, pembagian beban kerja yang realistis, serta budaya kerja yang tidak memaksa karyawan “selalu siap AI” disebut kunci keberhasilan integrasi teknologi ini.

Tantangan lain adalah menyeimbangkan antara teknologi dan aspek manusia. AI mungkin dapat menyelesaikan tugas teknis dengan cepat, tetapi AI belum bisa menggantikan kreativitas, intuisi, atau hubungan interpersonal yang sering menjadi sumber inovasi dalam pekerjaan.

Studi Harvard ini membuka diskusi baru seputar peran AI di dunia korporat: teknologi bukan jaminan bahwa pekerjaan akan terasa “lebih ringan”, dan tanpa strategi adopsi yang bijaksana, AI justru bisa membuat pekerja semakin kelelahan.

Back to top button