Asap Kebakaran Bisa Sebabkan ISPA hingga Gangguan Paru Kronis, Ini Risiko Jika Terhirup Terlalu Lama
Asap kebakaran yang terhirup dalam waktu lama dapat memicu ISPA hingga meningkatkan risiko gangguan paru dan penyakit jantung.
Asap dari kebakaran bukan sekadar mengganggu jarak pandang atau menimbulkan bau tidak sedap. Di balik kepulan asap tersebut terdapat campuran partikel halus, karbon monoksida, nitrogen oksida, sulfur dioksida, serta berbagai senyawa kimia berbahaya yang dapat masuk jauh ke dalam saluran pernapasan.
Risiko tersebut kini menjadi perhatian setelah kebakaran di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Jatiwaringin, Kabupaten Tangerang, Banten. Hingga hari ketiga kebakaran, Dinas Kesehatan Kabupaten Tangerang mencatat sebanyak 154 warga mengalami ISPA, dengan mayoritas penderita merupakan ibu hamil dan balita. Pemerintah juga mengimbau warga menggunakan masker dan segera memeriksakan diri apabila mengalami keluhan pernapasan.
Mengapa Asap Kebakaran Berbahaya?
Asap kebakaran mengandung partikel berukuran sangat kecil atau PM2.5, yaitu partikel dengan diameter kurang dari 2,5 mikrometer. Karena ukurannya sangat halus, partikel ini dapat menembus hingga ke alveolus atau kantong udara di paru-paru, bahkan sebagian dapat masuk ke aliran darah.
Selain PM2.5, asap juga mengandung karbon monoksida yang dapat mengurangi kemampuan darah mengangkut oksigen, sehingga tubuh lebih cepat mengalami kelelahan, pusing, hingga sesak napas.
Pada kebakaran di tempat pembuangan sampah, risikonya dapat lebih tinggi karena material yang terbakar bukan hanya sampah organik, tetapi juga plastik, karet, kain sintetis, hingga limbah rumah tangga yang menghasilkan berbagai zat beracun ketika terbakar.
Dampak Jika Terhirup dalam Waktu Lama
Paparan asap dalam waktu singkat umumnya menyebabkan mata perih, tenggorokan kering, batuk, hidung berair, serta iritasi saluran napas.
Namun, jika paparan berlangsung selama berhari-hari atau berminggu-minggu, dampaknya dapat menjadi lebih serius.
Saluran pernapasan akan mengalami peradangan sehingga risiko ISPA meningkat. Pada penderita asma atau penyakit paru obstruktif kronis (PPOK), asap dapat memicu kekambuhan yang membutuhkan penanganan medis.
Paparan jangka panjang juga dikaitkan dengan penurunan fungsi paru, meningkatnya risiko penyakit jantung dan pembuluh darah, serta memperburuk kondisi penderita penyakit kronis.
Beberapa penelitian bahkan menunjukkan bahwa paparan PM2.5 dalam kadar tinggi secara terus-menerus dapat meningkatkan risiko gangguan kardiovaskular karena partikel halus memicu peradangan di seluruh tubuh.
Kelompok yang Paling Rentan
Tidak semua orang memiliki risiko yang sama ketika menghirup asap kebakaran.
Anak-anak menjadi kelompok paling rentan karena paru-parunya masih berkembang dan frekuensi bernapas lebih tinggi dibandingkan orang dewasa.
Lansia juga lebih mudah mengalami gangguan akibat kapasitas paru yang mulai menurun.
Selain itu, ibu hamil, penderita asma, PPOK, penyakit jantung, diabetes, maupun mereka yang memiliki daya tahan tubuh rendah perlu memberikan perhatian lebih karena paparan asap dapat memperburuk kondisi kesehatan mereka.
Apa yang Harus Dilakukan?
Selama asap masih pekat, masyarakat sebaiknya mengurangi aktivitas di luar ruangan.
Jika terpaksa keluar rumah, gunakan masker dengan kemampuan menyaring partikel halus, seperti masker N95 atau setara. Masker kain maupun masker bedah dapat membantu mengurangi paparan partikel berukuran besar, tetapi efektivitasnya lebih rendah terhadap PM2.5.
Pintu dan jendela rumah sebaiknya ditutup saat kualitas udara memburuk agar asap tidak mudah masuk ke dalam ruangan.
Perbanyak minum air putih untuk membantu menjaga kelembapan saluran pernapasan, serta segera periksa ke fasilitas kesehatan apabila mengalami batuk yang tidak kunjung membaik, sesak napas, nyeri dada, atau demam.
Kebakaran TPA Jadi Pengingat Penting
Kasus di TPA Jatiwaringin menunjukkan bahwa dampak kebakaran tidak hanya berupa kerusakan lingkungan, tetapi juga ancaman kesehatan masyarakat.
Selama kebakaran belum sepenuhnya padam, masyarakat di sekitar lokasi diimbau mengikuti arahan pemerintah, menggunakan masker saat beraktivitas, dan membatasi paparan asap agar risiko gangguan kesehatan dapat diminimalkan.





