Cyberdeck Jadi Tren di Kalangan Gen Z, Apa Itu dan Mengapa Banyak Anak Muda Tertarik?
Cyberdeck, komputer portabel rakitan yang mengusung konsep do it yourself (DIY), tengah menjadi tren di kalangan Generasi Z karena menawarkan kebebasan bereksperimen
Di tengah dominasi laptop tipis dan perangkat serba instan dari pabrikan besar, muncul tren baru yang menarik perhatian Generasi Z. Bukan laptop terbaru atau tablet canggih, melainkan cyberdeck, komputer portabel rakitan yang tampil unik dan jauh dari desain perangkat elektronik pada umumnya.
Dalam beberapa bulan terakhir, cyberdeck ramai diperbincangkan di platform seperti TikTok dan Reddit. Sebagian penggunanya memanfaatkan perangkat ini untuk bermain gim klasik (retro gaming), menulis, pemrograman (coding), eksperimen radio, hingga pembelajaran keamanan siber (cybersecurity) secara etis.
Apa Itu Cyberdeck?
Cyberdeck merupakan komputer portabel yang dirakit sendiri menggunakan berbagai komponen, seperti single-board computer (misalnya Raspberry Pi), layar kecil, keyboard mekanis, baterai, serta casing yang dibuat sesuai kebutuhan pengguna. Tidak ada standar desain tertentu sehingga setiap cyberdeck memiliki bentuk, ukuran, dan fungsi yang berbeda-beda.
Konsep cyberdeck sebenarnya bukan hal baru. Istilah tersebut pertama kali muncul dalam novel fiksi ilmiah Neuromancer karya William Gibson pada 1984. Dalam cerita tersebut, cyberdeck digambarkan sebagai komputer portabel yang digunakan para peretas untuk mengakses dunia maya atau cyberspace.
Seiring berkembangnya komunitas maker dan budaya DIY, konsep tersebut berubah menjadi perangkat nyata yang dirakit secara mandiri oleh para penggemar teknologi.
Mengapa Digemari Gen Z?
Popularitas cyberdeck tidak lepas dari karakter Generasi Z yang menyukai personalisasi dan kreativitas.
Berbeda dengan laptop produksi massal yang memiliki desain seragam, cyberdeck memungkinkan pemiliknya menentukan sendiri bentuk perangkat, memilih komponen, hingga menyesuaikan fungsi sesuai kebutuhan. Bagi sebagian anak muda, proses merakit justru menjadi bagian paling menarik karena menghasilkan perangkat yang benar-benar unik.
Selain itu, penggunaan komponen bekas atau hasil upcycle juga membuat cyberdeck lebih ramah lingkungan sekaligus menjadi alternatif yang relatif terjangkau bagi mereka yang gemar bereksperimen dengan teknologi.
Lebih dari Sekadar Komputer
Meski tampil sederhana, cyberdeck dapat digunakan untuk berbagai aktivitas.
Sebagian pengguna menjadikannya sebagai konsol gim retro, sementara yang lain memanfaatkannya untuk belajar pemrograman, menjalankan server pribadi, menyimpan data secara lokal, hingga melakukan eksperimen perangkat keras dan perangkat lunak.
Di komunitas keamanan siber, cyberdeck juga sering digunakan sebagai perangkat portabel untuk melakukan pengujian jaringan secara legal dan etis, sehingga lebih berfungsi sebagai sarana pembelajaran dibanding alat untuk aktivitas ilegal.
Apakah Cyberdeck Bisa Menggantikan Laptop?
Meski menarik, cyberdeck bukanlah pengganti laptop bagi kebanyakan pengguna.
Perangkat ini umumnya memiliki layar lebih kecil, performa yang disesuaikan dengan kebutuhan tertentu, serta tidak dirancang untuk pekerjaan sehari-hari seperti mengolah dokumen berat, mengedit video, atau bermain gim modern.
Karena itu, cyberdeck lebih tepat dipandang sebagai perangkat khusus (special-purpose computer) yang dibuat untuk fungsi tertentu atau sebagai hobi bagi pecinta teknologi.
Munculnya Budaya “Maker”
Tren cyberdeck juga menunjukkan tumbuhnya budaya maker, yaitu komunitas yang gemar merancang, memodifikasi, dan menciptakan perangkat teknologi sendiri.
Alih-alih hanya menjadi konsumen, para penggemar cyberdeck terdorong memahami cara kerja perangkat keras, sistem operasi, hingga pemrograman. Aktivitas tersebut dinilai dapat meningkatkan keterampilan di bidang teknologi, elektronika, dan rekayasa perangkat lunak.
Di tengah perkembangan kecerdasan buatan (AI) dan perangkat digital yang semakin seragam, cyberdeck menawarkan pendekatan berbeda: teknologi tidak hanya digunakan, tetapi juga dipahami, dimodifikasi, dan disesuaikan dengan kebutuhan penggunanya. Itulah yang membuat perangkat ini mulai menarik perhatian banyak anak muda di berbagai negara, termasuk Indonesia.





