Hampir Semua Warga Indonesia Disebut Punya Bakat Diabetes, Gaya Hidup Jadi Pemicu Utama
Para ahli menyebut hampir seluruh masyarakat Indonesia memiliki bakat atau kerentanan genetik terhadap diabetes
Pernyataan tersebut disampaikan oleh Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin yang menjelaskan bahwa secara genetik masyarakat Indonesia memiliki kecenderungan mengalami diabetes. Namun, bakat tersebut tidak otomatis membuat seseorang menderita diabetes apabila mampu menjaga pola hidup sehat, terutama mengendalikan berat badan, rutin berolahraga, dan mengonsumsi makanan bergizi seimbang.
Menurut Budi, faktor keturunan memang berperan, tetapi lonjakan kasus diabetes dalam beberapa tahun terakhir lebih banyak dipicu perubahan gaya hidup masyarakat. Konsumsi makanan tinggi gula dan kalori, minim aktivitas fisik, kurang tidur, serta meningkatnya angka obesitas menjadi kombinasi yang mempercepat munculnya diabetes, terutama diabetes tipe 2.
Indonesia Miliki Hampir 20 Juta Penderita Diabetes
Ancaman diabetes di Indonesia bukan lagi persoalan kecil. Berdasarkan data Kementerian Kesehatan yang mengacu pada International Diabetes Federation (IDF), jumlah penyandang diabetes di Indonesia saat ini mencapai sekitar 19,5 juta orang dewasa. Angka tersebut menempatkan Indonesia sebagai salah satu negara dengan jumlah penderita diabetes terbesar di dunia. Bahkan, jumlah kasus diperkirakan akan terus meningkat hingga mencapai 28,6 juta orang pada 2045 apabila upaya pencegahan tidak diperkuat.
Yang lebih mengkhawatirkan, sebagian besar penderita tidak menyadari dirinya mengidap diabetes karena penyakit ini sering berkembang tanpa gejala yang jelas pada tahap awal. Akibatnya, banyak pasien baru mengetahui kondisinya setelah muncul komplikasi seperti gangguan ginjal, penyakit jantung, stroke, gangguan penglihatan, hingga luka yang sulit sembuh.
Gaya Hidup Modern Jadi Faktor Terbesar
Diabetes tipe 2 merupakan jenis diabetes yang paling banyak ditemukan di Indonesia. Penyakit ini erat kaitannya dengan gaya hidup modern.
Kebiasaan mengonsumsi minuman berpemanis, makanan cepat saji, camilan tinggi gula, serta aktivitas yang didominasi duduk dalam waktu lama membuat tubuh semakin sulit menggunakan insulin secara efektif. Kondisi tersebut dikenal sebagai resistensi insulin dan menjadi awal berkembangnya diabetes tipe 2.
Obesitas, terutama penumpukan lemak di area perut, juga menjadi salah satu faktor risiko terbesar. Selain itu, kurang tidur, stres berkepanjangan, dan kebiasaan merokok turut meningkatkan kemungkinan seseorang mengalami diabetes.
Tidak Hanya Menyerang Orang Tua
Jika dahulu diabetes identik dengan usia lanjut, kini penyakit tersebut semakin banyak ditemukan pada kelompok usia produktif, bahkan remaja dan dewasa muda.
Perubahan pola makan sejak usia dini, meningkatnya konsumsi makanan ultra-proses, serta minimnya aktivitas fisik membuat usia penderita diabetes semakin muda. Kondisi ini berbahaya karena semakin dini seseorang terkena diabetes, semakin lama tubuh terpapar kadar gula darah tinggi sehingga risiko komplikasi juga meningkat.
Pencegahan Masih Menjadi Kunci
Para ahli menegaskan bahwa memiliki bakat genetik bukan berarti seseorang pasti akan menderita diabetes. Faktor keturunan dapat ditekan melalui perubahan gaya hidup.
Langkah pencegahan yang dianjurkan antara lain menjaga berat badan ideal, membatasi konsumsi gula tambahan dan minuman berpemanis, memperbanyak konsumsi sayur dan buah, rutin berolahraga minimal 150 menit per minggu, tidur yang cukup, serta melakukan pemeriksaan gula darah secara berkala, terutama bagi mereka yang memiliki riwayat diabetes dalam keluarga.
Dengan jumlah penyandang diabetes yang telah mencapai hampir 20 juta orang, para ahli menilai upaya pencegahan harus menjadi prioritas nasional. Perubahan gaya hidup sejak usia muda dinilai menjadi langkah paling efektif untuk menekan laju peningkatan kasus diabetes di Indonesia.





