Jakarta Masuk Daftar Kota Termahal di Dunia 2026, Apa Penyebabnya?
Jakarta menempati peringkat ke-21 dalam daftar kota termahal di dunia 2026 untuk kalangan beraset tinggi.
Jakarta menempati peringkat ke-21 dalam daftar kota termahal di dunia 2026 untuk kalangan beraset tinggi (high-net-worth individuals), menunjukkan bahwa biaya menjalani gaya hidup premium di ibu kota Indonesia semakin sejajar dengan berbagai kota besar dunia.
Peringkat tersebut berasal dari Julius Baer Global Wealth and Lifestyle Report 2026, yang setiap tahun mengukur biaya mempertahankan gaya hidup mewah di berbagai kota dunia. Laporan ini tidak mengukur biaya hidup masyarakat secara umum, melainkan menghitung pengeluaran yang harus dikeluarkan oleh individu dengan aset kekayaan tinggi untuk menikmati berbagai barang dan layanan premium.
Pada 2025, Jakarta berada di posisi ke-18. Tahun ini, ibu kota Indonesia turun tiga peringkat ke posisi ke-21. Meski demikian, Jakarta tetap masuk dalam 25 kota global yang dipantau Julius Baer sebagai tolok ukur biaya mempertahankan standar hidup premium.
Penilaian dilakukan berdasarkan harga berbagai barang mewah, seperti mobil premium, jam tangan mewah, perhiasan, tas bermerek, pakaian desainer, properti residensial kelas atas, hingga perangkat teknologi premium.
Selain barang, laporan tersebut juga menghitung biaya berbagai layanan eksklusif, antara lain tiket pesawat kelas bisnis, makan di restoran fine dining, layanan kesehatan, menginap di hotel mewah, operasi mata LASIK, jasa pengacara, biaya pendidikan MBA, sekolah swasta internasional, hingga layanan spa.
Mengapa Jakarta Masuk Daftar Kota Termahal?
Masuknya Jakarta dalam daftar tersebut menunjukkan bahwa harga barang dan layanan premium di ibu kota terus meningkat. Salah satu penyebabnya adalah kenaikan harga properti di kawasan elite yang dipicu terbatasnya lahan serta tingginya permintaan dari kalangan berpenghasilan tinggi.
Selain itu, pertumbuhan jumlah masyarakat dengan daya beli tinggi membuat permintaan terhadap restoran premium, hotel berbintang, pusat perbelanjaan mewah, layanan kesehatan internasional, hingga sekolah bertaraf global terus meningkat. Kondisi tersebut mendorong kenaikan harga berbagai layanan eksklusif.
Faktor lainnya adalah tingginya ketergantungan Indonesia terhadap barang impor untuk segmen premium. Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat maupun mata uang asing lainnya membuat harga mobil mewah, jam tangan, tas bermerek, dan berbagai produk impor menjadi lebih mahal.
Bukan Berarti Biaya Hidup Semua Warga Sangat Mahal
Peringkat ini sering disalahartikan sebagai ukuran biaya hidup masyarakat secara keseluruhan. Padahal, indeks Julius Baer hanya mengukur biaya gaya hidup mewah bagi individu beraset tinggi.
Artinya, kebutuhan pokok seperti makanan, transportasi umum, maupun tempat tinggal masyarakat secara umum tidak menjadi dasar utama dalam pemeringkatan tersebut. Dibandingkan kota-kota seperti Singapura, Hong Kong, London, New York, atau Tokyo, biaya hidup rata-rata masyarakat Jakarta masih relatif lebih rendah.
Namun demikian, masyarakat tetap merasakan tekanan kenaikan biaya hidup dalam beberapa tahun terakhir, terutama pada sektor perumahan, pendidikan, kesehatan, serta berbagai kebutuhan sehari-hari yang dipengaruhi inflasi dan pelemahan nilai tukar rupiah.
Asia Pasifik Masih Mendominasi
Laporan Julius Baer juga menunjukkan bahwa kawasan Asia Pasifik masih menjadi pusat pertumbuhan kekayaan global. Lima kota di kawasan ini berhasil masuk dalam 10 besar kota termahal untuk kalangan beraset tinggi, yaitu Singapura, Hong Kong, Shanghai, Sydney, dan Bangkok.
Singapura kembali mempertahankan posisi sebagai kota termahal di dunia selama empat tahun berturut-turut. Menurut laporan tersebut, tingginya harga properti residensial, mahalnya kepemilikan kendaraan, serta kuatnya nilai tukar dolar Singapura menjadi faktor utama yang mempertahankan posisi negara tersebut di puncak peringkat.
Peluang dan Tantangan bagi Jakarta
Masuknya Jakarta ke dalam daftar kota termahal dunia menunjukkan bahwa ibu kota semakin diperhitungkan sebagai pusat bisnis dan destinasi bagi kalangan berpenghasilan tinggi. Kondisi ini berpotensi menarik investasi di sektor properti, perhotelan, ritel premium, hingga layanan kesehatan dan pendidikan.
Di sisi lain, pemerintah perlu memastikan pertumbuhan tersebut tidak memperlebar kesenjangan ekonomi. Pengendalian inflasi, penyediaan hunian yang terjangkau, peningkatan transportasi publik, serta menjaga daya beli masyarakat menjadi tantangan agar kualitas hidup warga Jakarta tetap terjaga di tengah meningkatnya biaya berbagai barang dan jasa.



