TechnoUpdate News

AI Bisa Deteksi Penyakit Sapi Tanpa Sentuhan, Berpeluang Diterapkan pada Manusia

Kecerdasan buatan (AI) kini mampu membaca tanda awal penyakit pada sapi dengan memanfaatkan data visual dan termal tanpa kontak fisik langsung, membuka peluang adaptasi teknologi serupa untuk deteksi kesehatan manusia

Teknologi kecerdasan buatan (AI) kembali menunjukkan terobosan penting di bidang kesehatan hewan. Para peneliti di University of Arkansas mengembangkan sebuah sistem yang disebut CattleFever, yang memanfaatkan kamera termal dan AI untuk “membaca” tanda suhu tubuh sapi melalui wajahnya tanpa perlu menyentuh hewan tersebut. Sistem ini dilatih dengan ribuan gambar dan data suhu yang dikumpulkan dari sapi yang kemudian dikaitkan dengan pembacaan termometer, sehingga AI dapat memperkirakan suhu internal tubuh hanya dari citra termal wajah hewan.

Cara kerja sistem ini adalah dengan mengikuti machine learning untuk mengenali bagian wajah seperti mata dan lubang hidung yang paling dekat merefleksikan suhu tubuh dalam gambar termal, kemudian memprediksi suhu tersebut dengan akurasi hingga sekitar satu derajat Celcius dari pengukuran termometer tradisional. Sensor ini memberikan pemeriksaan kesehatan yang cepat, tanpa menimbulkan stres bagi hewan dan tanpa memerlukan interaksi fisik, yang selama ini menjadi kendala dalam pemeriksaan berkala di peternakan.

Kemampuan AI dalam mendeteksi tanda penyakit sebelum gejala terlihat jelas memberikan insight baru bagi peternak dan dokter hewan. Deteksi dini bisa mengurangi penyebaran penyakit di antara hewan ternak, memperbaiki kesejahteraan ternak, dan memangkas kerugian ekonomi di sektor peternakan yang sering kali disebabkan oleh wabah penyakit atau infeksi.

Pertanyaan yang muncul kemudian adalah apakah teknologi sejenis ini bisa diaplikasikan pada manusia. Dalam konteks medis, AI memang sudah mulai digunakan secara luas untuk memperkuat sistem diagnostik. Di rumah sakit besar dan pusat riset kesehatan, AI dipakai untuk menganalisis citra radiologi, memindai pola dalam data medis kompleks, serta membantu mengidentifikasi penyakit dari gambar dan sinyal fisiologis yang tidak mudah dilihat manusia biasa. Ini termasuk penggunaan deep learning dalam citra medis dan pengenalan pola yang menjadi dasar banyak sistem diagnosis modern.

Read More  MG Motor Tegaskan Komitmen Keselamatan dan Elektrifikasi Lewat Teknologi Global

Namun, adaptasi langsung dari teknologi deteksi hewan ke manusia bukan tanpa tantangan. Tubuh manusia kompleks dan data medis manusia sering kali berada di bawah pengawasan ketat regulasi hak pasien dan etika medis. Untuk dapat digunakan secara klinis, sebuah sistem tidak hanya harus akurat secara teknis tetapi juga harus mematuhi standar keselamatan kesehatan manusia dan persetujuan regulator seperti organisasi kesehatan nasional. Terlebih lagi, sistem yang membaca tanda penyakit dari luar tubuh — misalnya dari wajah atau suhu permukaan — memiliki batasan tertentu dalam hal kedalaman informasi medis yang bisa dipersepsikan, dibandingkan pemeriksaan seperti MRI, CT-scan, atau tes laboratorium yang memberikan data internal yang lebih rinci.

Di sisi lain, aplikasi adaptif seperti machine learning sudah mulai dipelajari untuk digunakan pada deteksi penyakit manusia dengan data citra medis, pola perilaku, dan tanda vital non-invasif. Teknologi serupa justru berkembang di laboratorium dan rumah sakit untuk membantu dokter dalam diagnosa yang cepat dan efektif, misalnya dengan AI yang memindai riwayat kesehatan pasien dari catatan medis elektronik untuk mengidentifikasi risiko penyakit tertentu.

Para ahli mengatakan bahwa walaupun mendeteksi penyakit manusia tanpa kontak langsung seperti yang dilakukan pada sapi masih dalam tahap penelitian awal, tren pemanfaatan AI di bidang kesehatan secara umum menunjukkan bahwa semakin banyak data yang tersedia dan dikombinasikan dengan algoritme canggih, semakin besar peluang teknologi ini bisa diterapkan dalam precision medicine — yaitu pendekatan medis yang dipersonalisasi dan tepat waktu untuk masing-masing pasien.

Perubahan ini menunjukkan bahwa AI bukan sekadar alat untuk otomasi, tetapi juga sebuah mitra baru dalam sistem kesehatan global yang dapat mempercepat deteksi, diagnosis, dan intervensi medis, baik pada hewan maupun manusia dengan dukungan data yang kuat dan regulasi yang tepat.

Back to top button