Anak Muda Kian Rentan Kanker Usus Besar, Ini Penyebabnya
Kasus kanker usus besar yang kini makin banyak menyerang anak muda, menjadi peringatan penting bahwa tren penyakit ini tidak lagi hanya âpenyakit orang tuaâ
Kanker kolorektal atau kanker usus besar selama puluhan tahun dikenal sebagai penyakit yang umum dialami oleh orang tua. Namun, tren global menunjukkan perubahan yang mengkhawatirkan: angka kejadian kanker usus besar pada usia muda terus meningkat secara signifikan dalam beberapa dekade terakhir. Fenomena ini tidak hanya terjadi di negara maju, tetapi juga mulai mencuat di berbagai belahan dunia, termasuk di Indonesia.
Kisah nyata seperti yang dialami Jenna Scott, yang didiagnosis kanker usus besar stadium 4 pada usia 31 tahun, mencerminkan betapa seriusnya tren ini. Kasus-kasus serupa menunjukkan bahwa kanker kolorektal kini tidak lagi eksklusif pada usia lanjut.
Para peneliti dan ahli kesehatan tidak memastikan satu penyebab tunggal dari meningkatnya kanker usus besar di kalangan orang muda, tetapi sejumlah faktor gaya hidup dan lingkungan dinilai berkontribusi besar. Pola hidup modern yang semakin tidak seimbang â seperti diet tinggi makanan ultra-diproses, rendah serat, serta konsumsi daging merah dan minuman bergula yang berlebihan â terkait erat dengan risiko kanker kolorektal. Diet seperti ini dapat menciptakan kondisi radang di usus dan memengaruhi keseimbangan mikrobioma usus, yang pada gilirannya meningkatkan kemungkinan pertumbuhan sel kanker.
Selain itu, obesitas dan gaya hidup sedentari (kurang aktivitas fisik) yang mengiringi transformasi digital dan pekerjaan yang makin banyak dilakukan sambil duduk juga disebut sebagai faktor risiko. Kebiasaan duduk lama, ditambah pola makan tinggi kalori dan rendah nutrisi, dapat mendorong proses inflamasi kronis dalam tubuh yang berkaitan dengan kanker usus besar.
Faktor lain yang turut diperhatikan para ilmuwan adalah gangguan pada mikrobioma usus â kumpulan bakteri yang hidup di usus besar. Beberapa studi awal menemukan bahwa bakteri tertentu yang menghasilkan racun DNA-damaging seperti kolibaktin dapat meningkatkan mutasi yang berujung pada kanker kolorektal di usia lebih muda. Meski mekanisme pastinya masih diteliti, temuan ini membuka kemungkinan adanya pengaruh kombinasi faktor lingkungan dan perubahan mikrobioma terhadap tren penyakit ini.
Tidak kalah pentingnya adalah tantangan deteksi dini. Orang dewasa muda sering kali tidak termasuk dalam kelompok usia yang direkomendasikan skrining rutin sebelumnya, sehingga diagnosis sering terjadi pada stadium yang lebih lanjut ketika gejala mulai muncul, seperti perdarahan saat buang air besar, perubahan kebiasaan tinja, nyeri perut, atau penurunan berat badan yang tidak jelas penyebabnya. Kondisi ini membuat kesempatan pengobatan menjadi lebih sulit dan mengurangi peluang kesembuhan.
Fenomena meningkatnya kasus kanker usus besar di usia muda juga mencerminkan perubahan pola gaya hidup secara lebih luas. Paparan terhadap makanan modern yang tinggi lemak, rendah serat, konsumsi alkohol yang meningkat, serta faktor lingkungan seperti polusi dan paparan bahan kimia tertentu disebut berperan dalam meningkatkan risiko kanker ini â meskipun peran pastinya masih terus dikaji oleh komunitas ilmiah global.
Meski tren ini serius, para ahli menunjukkan bahwa pencegahan dan deteksi dini sangat bisa meningkatkan peluang hidup yang lebih baik. Menjalani pola makan seimbang, aktif bergerak secara teratur, menghindari rokok dan konsumsi alkohol berlebihan, serta menjalani skrining sesuai anjuran dokter (misalnya mulai pada usia 45 tahun atau lebih awal jika ada riwayat keluarga) adalah langkah-langkah nyata yang dapat membantu menurunkan risiko dan menangkap kanker pada stadium awal.
Kasus-kasus seperti Jenna Scott menjadi pengingat bahwa kanker usus besar bukan lagi sekadar âpenyakit orang tuaâ. Kesadaran, perubahan gaya hidup, dan pemeriksaan medis yang tepat sangat penting agar tren ini tidak berkembang menjadi krisis kesehatan yang makin parah di masa depan.





