HealthcareUpdate News

Batas Aman Makan Gorengan Saat Buka Puasa, Dokter Ingatkan Risiko Kolesterol

Gorengan jadi menu favorit saat berbuka puasa, konsumsi berlebihan bisa memicu lonjakan kolesterol dan gangguan kesehatan lain.

Suara azan magrib kerap disambut dengan deretan gorengan hangat di meja makan. Mulai dari bakwan, tahu isi, tempe goreng, hingga risoles, camilan ini seolah tak pernah absen saat berbuka puasa. Namun di balik rasanya yang gurih dan renyah, ada risiko kesehatan yang perlu diwaspadai.

Dokter mengingatkan bahwa konsumsi gorengan sebaiknya dibatasi agar kadar kolesterol tetap terkendali. Makanan yang digoreng umumnya tinggi lemak jenuh, terutama jika dimasak dengan minyak yang dipakai berulang kali. Minyak yang telah digunakan berkali-kali dapat mengalami perubahan struktur kimia dan menghasilkan senyawa yang berdampak buruk bagi tubuh.

Dokter Spesialis Penyakit Dalam Konsultan Gastroenterologi-Hepatologi, dr. Ari Fahrial Syam, dalam berbagai kesempatan mengingatkan pentingnya membatasi makanan tinggi lemak saat berbuka puasa.

“Setelah berpuasa seharian, tubuh memang butuh energi, tetapi bukan berarti langsung mengonsumsi makanan tinggi lemak dalam jumlah banyak. Lemak berlebih bisa memicu kenaikan kolesterol dan gangguan pencernaan,” ujar dr. Ari.

Secara umum, batas aman konsumsi gorengan saat berbuka puasa adalah tidak berlebihan. Cukup satu hingga dua potong sebagai selingan, bukan sebagai menu utama. Setelah seharian berpuasa, tubuh lebih ideal menerima asupan yang ringan terlebih dahulu agar sistem pencernaan beradaptasi kembali.

Selain membatasi jumlah, pemilihan minyak juga penting. Gunakan minyak berkualitas baik dan hindari memanaskan minyak berulang kali hingga berubah warna menjadi lebih gelap atau berbau tengik. Minyak yang sudah rusak dapat meningkatkan risiko peradangan dan memperburuk profil lemak darah.

Read More  OJK Buka Peluang Bitcoin Masuk Cadangan Negara, Tapi Ingatkan Soal Risiko

Bagi orang dengan riwayat kolesterol tinggi, hipertensi, diabetes, atau penyakit jantung, konsumsi gorengan perlu lebih dikontrol. Terlalu banyak lemak jenuh dapat meningkatkan kadar kolesterol jahat dalam darah yang dalam jangka panjang berkontribusi pada penyumbatan pembuluh darah.

Sebagai alternatif, menu berbuka bisa diawali dengan air putih dan kurma untuk mengembalikan kadar gula darah secara bertahap. Setelah itu, pilih makanan yang direbus, dikukus, atau dipanggang sebagai sumber energi utama. Gorengan tetap boleh dinikmati, tetapi sebagai pelengkap, bukan santapan utama.

Puasa seharusnya menjadi momen memperbaiki pola makan dan gaya hidup. Dengan konsumsi yang lebih bijak, tubuh tetap bertenaga selama Ramadan tanpa harus mengorbankan kesehatan jantung dan kadar kolesterol.

Back to top button