HealthcareUpdate News

Benarkah Micin Bikin Otak Lemot? Ini Fakta dari Penelitian Terbaru

Anggapan bahwa micin atau MSG bisa membuat otak lemot ternyata belum terbukti secara ilmiah, namun konsumsi berlebihan tetap dapat berdampak buruk bagi kesehatan tubuh.

Stigma bahwa micin bisa membuat seseorang menjadi “bodoh” atau otaknya lemot sudah lama beredar di masyarakat Indonesia. Tidak sedikit orang tua yang menghindari penggunaan penyedap rasa atau monosodium glutamat (MSG) karena khawatir memengaruhi perkembangan otak anak.

Namun sejumlah penelitian terbaru justru menunjukkan bahwa anggapan tersebut lebih banyak merupakan mitos dibanding fakta ilmiah.

Laporan yang dimuat DetikHealth menyebut hingga saat ini belum ada bukti kuat yang menunjukkan MSG dapat merusak fungsi otak apabila dikonsumsi dalam jumlah wajar. Bahkan, penelitian National Institute of Health (NIH) berjudul Effect of monosodium L-glutamate (umami substance) on cognitive function in people with dementia menyebut MSG tidak terbukti merusak fungsi kognitif, termasuk pada penderita demensia.

Dokter spesialis gizi dr. Johanes Chandrawinata, SpGK, juga menjelaskan bahwa penggunaan micin dalam jumlah cukup justru dapat membantu mengurangi konsumsi garam berlebih karena MSG memiliki rasa umami yang lebih kuat.

MSG sendiri merupakan senyawa penyedap rasa yang berasal dari asam glutamat, salah satu asam amino alami yang juga ditemukan pada makanan seperti tomat, keju, daging, dan rumput laut. Penyedap rasa ini telah digunakan selama puluhan tahun di berbagai negara untuk memperkuat cita rasa makanan.

Yang Berbahaya Bukan Micinnya, Tapi Konsumsi Berlebihan

Meski tidak terbukti membuat otak lemot, para ahli tetap mengingatkan bahwa konsumsi makanan tinggi natrium secara berlebihan dapat meningkatkan risiko hipertensi, stroke, dan penyakit jantung.

Karena MSG tetap mengandung natrium, penggunaannya tetap perlu dibatasi dan dikombinasikan dengan pola makan bergizi seimbang. Batas konsumsi natrium harian yang dianjurkan untuk orang dewasa sekitar 2.300 miligram per hari.

Read More  Biaya Hidup Naik, Ini Strategi Cerdas Berhemat Agar Keuangan Tetap Terkendali

Beberapa penelitian lama memang sempat mengaitkan MSG dengan gangguan saraf dan penurunan fungsi otak. Namun hingga kini klaim tersebut belum didukung bukti ilmiah yang kuat. Sejumlah penelitian terbaru bahkan menunjukkan MSG tidak melewati sawar darah otak atau blood brain barrier, sehingga kecil kemungkinan langsung memengaruhi kecerdasan seseorang.

Pakar menilai faktor yang jauh lebih memengaruhi fungsi otak adalah kualitas pola makan secara keseluruhan, kurang tidur, stres, kurang aktivitas fisik, hingga penyakit tertentu.

Dengan kata lain, makanan bergizi seimbang tetap menjadi faktor utama dalam menjaga kesehatan otak, bukan sekadar menghindari micin.

Meski demikian, masyarakat tetap disarankan tidak berlebihan mengonsumsi makanan instan, makanan ultra proses, maupun makanan tinggi garam karena dalam jangka panjang dapat memicu berbagai penyakit metabolik.

Back to top button