Bitcoin Anjlok ke US$66.000 Usai Data Tenaga Kerja AS Kuat, Pasar Kripto Tertekan
Harga Bitcoin merosot ke kisaran US$66.000 setelah rilis data ketenagakerjaan Amerika Serikat memicu sentimen risk-off global dan gelombang likuidasi di pasar kripto.
Pasar kripto kembali mengalami tekanan signifikan pada 11 Februari setelah data non-farm payrolls (NFP) Amerika Serikat menunjukkan pasar tenaga kerja yang lebih kuat dari perkiraan. Bitcoin sempat turun di bawah US$67.000 atau sekitar Rp1,12 miliar, sementara sejumlah altcoin terkoreksi lebih dalam di tengah meningkatnya kehati-hatian investor global.
Data Biro Statistik Tenaga Kerja AS mencatat penambahan sekitar 130.000 lapangan kerja pada Januari. Angka ini meningkat dibandingkan bulan sebelumnya. Tingkat pengangguran berada di 4,3%, sedangkan pertumbuhan pendapatan rata-rata per jam melambat menjadi 3,7%.
Meski menunjukkan ketahanan ekonomi, revisi tahunan data ketenagakerjaan mengindikasikan lebih dari satu juta pekerjaan hilang dalam penyesuaian. Hal ini memunculkan kekhawatiran adanya potensi âresesi perekrutanâ sepanjang 2025 dan memperkuat ekspektasi suku bunga tinggi bertahan lebih lama.
Tekanan di pasar kripto juga diperburuk oleh meningkatnya ketegangan geopolitik global, termasuk spekulasi eskalasi konflik di Timur Tengah. Harga minyak dan aset safe haven seperti emas serta franc Swiss menguat, sementara Bitcoin kembali bergerak searah dengan aset berisiko seperti saham teknologi.
Dalam hitungan jam, kapitalisasi pasar kripto dilaporkan menyusut hampir US$90 miliar. Bitcoin turun mendekati US$66.000 dan memicu likuidasi posisi leverage sekitar US$70 juta. Ethereum bahkan sempat menyentuh area US$1.900. Indeks Fear & Greed kembali masuk zona âketakutan ekstremâ, mencerminkan sikap defensif pelaku pasar.
Analis Tokocrypto, Fyqieh Fachrur, menilai koreksi kali ini lebih dipicu oleh aksi deleveraging di pasar derivatif dibandingkan faktor fundamental Bitcoin.
âPenurunan open interest lebih dari 10% dan lonjakan likuidasi hingga di atas US$160 juta menunjukkan pasar sedang mengurangi risiko secara agresif. Ketika posisi leverage ditutup paksa, tekanan jual terakumulasi dalam waktu singkat dan memperdalam koreksi harga,â ujar Fyqieh.
Data menunjukkan open interest kontrak perpetual turun signifikan, sementara minat terbuka di pasar berjangka kini berada di bawah US$100 miliar, jauh dari puncaknya tahun lalu yang sempat melampaui US$255 miliar. Kondisi ini mencerminkan siklus pendinginan aktivitas spekulatif.
Secara teknikal, Fyqieh menyebut Bitcoin tengah berada dalam fase konsolidasi dengan kecenderungan netral hingga bearish dalam jangka pendek. Level US$67.088 menjadi support Fibonacci krusial. Jika mampu bertahan, ada peluang rebound ke US$68.400. Namun jika level tersebut ditembus, potensi penurunan lanjutan ke kisaran US$66.500 terbuka dalam 24â48 jam.
Sejumlah analis global juga mencatat Bitcoin kini semakin berkorelasi dengan saham teknologi berisiko tinggi, bukan lagi dipandang sebagai aset lindung nilai. Pelemahan indeks utama AS seperti S&P 500 dan Nasdaq turut menyeret harga aset digital.
Menurut Fyqieh, arah pergerakan berikutnya sangat bergantung pada data inflasi AS dan kebijakan suku bunga The Fed. Jika inflasi melambat signifikan dan membuka ruang penurunan suku bunga lebih cepat, momentum pemulihan bisa terbentuk. Namun narasi âhigher for longerâ masih menjadi tekanan jangka menengah.
Di tengah tekanan jangka pendek, data on-chain justru menunjukkan akumulasi signifikan oleh investor besar atau whale. Tercatat lebih dari 66.000 BTC mengalir ke alamat akumulasi pada awal Februari, menjadi salah satu yang terbesar dalam siklus ini.
Fenomena tersebut dinilai sebagai fondasi struktural positif bagi pasar. Ketika koin ditarik dari bursa dan disimpan, suplai yang tersedia untuk dijual berkurang. Jika sentimen makro membaik, kondisi ini berpotensi memicu supply squeeze dan reli kuat.
Meski demikian, volatilitas diperkirakan masih tinggi dalam waktu dekat. Investor disarankan disiplin dalam manajemen risiko dan menghindari penggunaan leverage berlebihan di tengah ketidakpastian global.



