FintalkUpdate News

Bitcoin Tembus US$72.258, Gencatan Senjata AS–Iran Picu Reli Kripto

Harga Bitcoin naik 1% ke US$72.258, didorong meredanya tensi geopolitik dan sentimen positif ekonomi global.

Pergerakan harga Bitcoin kembali menjadi sorotan pelaku pasar setelah mencatat kenaikan 1,0% dalam 24 jam terakhir pada Jumat (10/4) hingga mencapai level US$72.258. Kenaikan ini bahkan melampaui pertumbuhan total pasar kripto yang hanya naik 0,79%, menandakan adanya dorongan kuat dari faktor eksternal, khususnya sentimen global.

Reli Bitcoin terjadi di tengah kabar meredanya ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran, yang memicu penguatan pada berbagai aset berisiko, termasuk saham dan kripto. Kondisi ini menunjukkan semakin kuatnya hubungan antara pasar kripto dengan dinamika ekonomi global.

Sentimen Global Jadi Pendorong Utama

Penguatan Bitcoin tidak terlepas dari pengumuman gencatan senjata sementara antara Amerika Serikat dan Iran yang berlangsung selama dua minggu pada awal April 2026. Kabar tersebut menurunkan kekhawatiran investor terhadap risiko geopolitik dan mendorong aliran dana kembali masuk ke aset berisiko.

Dampaknya terlihat di pasar keuangan global. Indeks S&P 500 tercatat naik 1,9%, sementara Bitcoin menunjukkan korelasi tinggi sebesar 0,88 terhadap indeks tersebut. Hal ini menegaskan bahwa pergerakan kripto saat ini semakin dipengaruhi kondisi makroekonomi global.

Analis Tokocrypto, Fyqieh Fachrur, menilai reli Bitcoin kali ini lebih mencerminkan perubahan sentimen global dibanding faktor fundamental internal.

“Reli Bitcoin saat ini lebih mencerminkan perubahan sentimen makro global, terutama meredanya risiko geopolitik. Dalam situasi seperti ini, Bitcoin bergerak sejalan dengan aset berisiko lainnya,” ujarnya.

Likuidasi Short dan Breakout Teknikal Perkuat Tren Naik

Selain faktor geopolitik, kenaikan Bitcoin juga diperkuat oleh aktivitas di pasar derivatif. Dalam 24 jam terakhir terjadi likuidasi posisi short senilai US$427 juta, yang memicu aksi beli paksa (short squeeze) dan mempercepat kenaikan harga.

Read More  AI Enablement Playbook Diluncurkan, Panduan Strategis Percepat Adopsi Kecerdasan Buatan di Indonesia

Momentum bullish semakin kuat setelah Bitcoin menembus level teknikal penting Fibonacci di kisaran US$71.515. Indikator RSI 7 hari berada di level 67,49, menunjukkan tren naik masih kuat namun belum memasuki area jenuh beli (overbought).

Menurut Fyqieh, kombinasi sentimen global dan faktor teknikal menjadi katalis utama penguatan harga.

“Likuidasi di pasar derivatif menciptakan tekanan beli tambahan yang mempercepat kenaikan. Breakout pada level teknikal kunci menjadi sinyal tren naik masih memiliki ruang, setidaknya dalam jangka pendek,” jelasnya.

Data Inflasi AS dan Kebijakan The Fed Jadi Perhatian

Selain geopolitik, pelaku pasar juga mencermati data ekonomi Amerika Serikat. Inflasi PCE Februari tercatat sebesar 2,8% secara tahunan, sesuai ekspektasi pasar, sementara inflasi inti berada di level 3%. Stabilnya inflasi memberi harapan kebijakan moneter yang lebih fleksibel dari bank sentral AS.

Kini perhatian tertuju pada rilis data inflasi CPI Maret yang diperkirakan naik menjadi 3,3% secara tahunan. Data ini penting karena mencerminkan dampak konflik geopolitik terhadap harga energi dan inflasi global.

Jika inflasi lebih tinggi dari perkiraan, suku bunga tinggi berpotensi bertahan lebih lama dan dapat menekan Bitcoin. Sebaliknya, inflasi yang lebih rendah berpotensi membuka ruang penguatan lanjutan bagi pasar kripto.

Outlook: Potensi Naik Masih Ada, Tapi Tetap Waspada

Dalam jangka pendek, Bitcoin masih berpeluang melanjutkan kenaikan selama mampu bertahan di atas level US$71.500. Jika bertahan, harga berpotensi menguji resistance di kisaran US$72.545 hingga US$73.500.

Namun risiko koreksi tetap terbuka apabila ketegangan geopolitik kembali meningkat atau sentimen ekonomi global berubah. Dalam skenario tersebut, Bitcoin berpotensi turun ke area support di sekitar US$68.700.

Pergerakan Bitcoin saat ini menunjukkan bahwa aset kripto semakin terintegrasi dengan dinamika ekonomi global. Sentimen geopolitik, kebijakan moneter, dan aktivitas pasar derivatif menjadi faktor utama yang mempengaruhi arah harga.

Read More  Corning dan MyRepublic Luncurkan Uji Coba Internet Fiber Super Cepat di Permukiman Premium Jakarta

Investor diharapkan tidak hanya melihat peluang keuntungan, tetapi juga mempertimbangkan risiko yang dapat muncul sewaktu-waktu seiring perubahan kondisi global yang sangat dinamis.

Back to top button