FintalkUpdate News

Bitcoin Terpeleset ke Level Kritis, Mengapa Investor Ramai-ramai Kabur?

Harga Bitcoin terjun ke level terendah dalam 16 bulan terakhir, memicu aksi jual dan membuat investor ramai-ramai keluar di tengah tekanan pasar saham teknologi global.

Harga Bitcoin kembali tertekan dan jatuh ke level terendah dalam 16 bulan terakhir di kisaran US$ 60.000, memicu kekhawatiran di pasar aset kripto global. Kondisi ini membuat banyak investor memilih menarik dananya, seiring meningkatnya tekanan jual dan sentimen negatif dari pasar keuangan global.

Penurunan harga Bitcoin tidak terjadi secara tiba-tiba. Salah satu pemicu utamanya adalah aksi jual besar-besaran di saham teknologi global, khususnya di Amerika Serikat. Ketika saham teknologi terkoreksi tajam, aset berisiko seperti kripto ikut terseret karena investor cenderung mengurangi eksposur pada instrumen dengan volatilitas tinggi.

Selain itu, ketidakpastian arah kebijakan suku bunga global turut memengaruhi pergerakan Bitcoin. Harapan penurunan suku bunga yang belum terealisasi membuat investor kembali melirik aset yang dianggap lebih aman, seperti obligasi dan dolar AS. Dalam situasi ini, Bitcoin yang selama ini diposisikan sebagai aset lindung nilai justru kembali dipandang sebagai aset spekulatif.

Faktor lain yang mendorong investor kabur adalah sentimen ambil untung setelah reli panjang yang terjadi sebelumnya. Banyak investor memilih mengamankan keuntungan di tengah sinyal pelemahan pasar, sehingga tekanan jual semakin besar dan mempercepat penurunan harga.

Tekanan juga datang dari pasar derivatif kripto. Likuidasi posisi leverage dalam jumlah besar memperparah penurunan, karena sistem secara otomatis menutup posisi investor yang tidak mampu menahan fluktuasi harga. Efek domino ini membuat volatilitas Bitcoin semakin tinggi dan memperbesar kepanikan pasar.

Tak kalah penting, korelasi Bitcoin dengan pasar saham teknologi kembali menguat. Alih-alih bergerak independen, Bitcoin justru mengikuti pola pergerakan saham berisiko. Ketika saham teknologi melemah, kepercayaan investor terhadap kripto ikut tergerus.

Read More  Harga Emas Diprediksi Tembus Rekor di 2026, Masih Layak Jadi Aset Safe Haven?

Meski demikian, sejumlah analis menilai penurunan ini masih tergolong koreksi dalam siklus jangka panjang Bitcoin. Namun untuk jangka pendek, pasar diperkirakan tetap bergejolak hingga ada kejelasan arah kebijakan moneter global dan stabilitas di pasar saham.

Bagi investor, kondisi ini menjadi pengingat bahwa investasi kripto tetap memiliki risiko tinggi. Manajemen risiko, pemahaman siklus pasar, serta tidak terpancing euforia atau kepanikan dinilai menjadi kunci dalam menghadapi fluktuasi harga Bitcoin ke depan.

Back to top button