HealthcareUpdate News

Cara Kenali Lapar Asli vs Lapar Emosional: Kunci Sukses Diet dan Kontrol Berat Badan

Mengontrol rasa lapar dengan membedakan antara lapar fisik dan lapar emosional menjadi kunci penting agar diet berjalan efektif dan penurunan berat badan dapat tercapai.

Mengontrol rasa lapar dengan tepat — terutama membedakan antara lapar fisik dan lapar emosional — menjadi langkah penting bagi siapa saja yang ingin menurunkan berat badan secara sehat dan efektif.

Saat seseorang berbicara tentang “diet”, mereka sering fokus pada pengurangan kalori atau memilih menu sehat — tapi aspek psikologis justru sering terabaikan. Artikel di DetikWolipop menjelaskan bahwa tidak semua “ingin makan” disebabkan tubuh butuh nutrisi; terkadang keinginan makan muncul dari emosi seperti stres, bosan, sedih, atau kecemasan.

Lapar fisik biasanya muncul secara berangsur, disertai sensasi di perut seperti “keroncongan”, dan hilang setelah kita makan serta memberi energi kembali. Sebaliknya, lapar emosional bisa muncul tiba-tiba, sering dikaitkan dengan perasaan (misalnya stres setelah kerja, bosan di rumah, atau saat sedih), dan biasanya memunculkan keinginan makan makanan tertentu — seperti makanan manis, gorengan, atau camilan berat — padahal tubuh tidak benar-benar butuh asupan kalori.

Pakar gizi menyarankan agar orang yang berdiet belajar mengenali sinyal tubuh dan emosinya. Misalnya, sebelum makan, cobalah berhenti sejenak dan tanya pada diri sendiri: “Apakah aku benar-benar lapar secara fisik, atau hanya bosan/stres?” Jika ternyata yang mendorong adalah emosi, ada baiknya mencari alternatif lain — seperti minum air, jalan kaki singkat, atau melakukan aktivitas ringan — sebelum memutuskan makan.

Strategi ini penting karena jika terus-menerus makan atas dasar emosional, maka asupan kalori bisa jauh melampaui kebutuhan, sehingga target penurunan berat badan sulit tercapai. Sebaliknya, dengan memahami perbedaan lapar fisik dan emosional, seseorang bisa lebih mudah menjaga defisit kalori — kunci dari diet yang berhasil — tanpa merasa “kurang makan” secara psikologis.

Read More  Pasutri Guru Agama Tewas Ditabrak Pengemudi Mabuk, Bahaya Alkohol di Jalan Raya

Banyak juga ahli menekankan pentingnya pola hidup sehat secara menyeluruh: tidur cukup, manajemen stres, olahraga rutin, dan perencanaan makan yang baik. Karena pada akhirnya, diet yang sukses bukan hanya soal angka di timbangan — tapi perubahan gaya hidup jangka panjang yang berkelanjutan.

Dengan memahami perbedaan lapar fisik dan emosional, serta belajar mendengarkan tubuh dan emosi dengan bijak, proses menurunkan berat badan bisa jadi lebih mudah, realistis, dan sehat.

Back to top button