Ekonomi Indonesia Tumbuh 5,39%, AI dan Digitalisasi Jadi Penggerak Baru
Ekonomi Indonesia tumbuh 5,39 persen dengan digitalisasi dan teknologi AI menjadi motor baru yang diproyeksikan memperkuat daya saing nasional
Pertumbuhan ekonomi Indonesia tetap menunjukkan kinerja positif dengan angka 5,39 persen secara tahunan (year on year). Pemerintah menilai transformasi digital dan kecerdasan buatan (AI) menjadi motor baru yang akan mendorong pertumbuhan ekonomi nasional dalam beberapa tahun ke depan.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan, ketahanan ekonomi Indonesia masih terjaga di tengah ketidakpastian global, tekanan geopolitik, serta fluktuasi ekonomi dunia. Pertumbuhan ekonomi sebesar 5,39 persen tercatat pada triwulan IV 2025, menempatkan Indonesia sebagai salah satu negara dengan pertumbuhan solid di kelompok G20.
Menurut Airlangga, pemerintah memandang digitalisasi dan teknologi AI sebagai mesin pertumbuhan ekonomi baru. Nilai ekonomi digital Indonesia diperkirakan hampir mencapai 100 miliar dollar AS, didukung oleh ekosistem startup yang terus berkembang serta adopsi teknologi di berbagai sektor industri.
Kontribusi terbesar terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) masih berasal dari konsumsi rumah tangga yang tumbuh 4,99 persen dengan porsi 53,63 persen terhadap ekonomi nasional. Kondisi ini menunjukkan daya beli masyarakat masih cukup kuat dan menjadi penopang stabilitas ekonomi domestik.
Pemerintah juga menilai pemanfaatan AI dapat membantu pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) dalam mengoptimalkan bisnis, mulai dari analisis tren penjualan hingga memahami perilaku konsumen. Teknologi ini dinilai mampu meningkatkan efisiensi sekaligus membuka peluang kerja baru di era ekonomi digital.
Saat ini Indonesia memiliki sekitar 3.200 startup dan sejumlah perusahaan unicorn yang bergerak di sektor fintech, e-commerce, transportasi digital, hingga teknologi berbasis data. Ekosistem ini dinilai menjadi fondasi penting untuk memperkuat daya saing ekonomi nasional di tengah percepatan transformasi digital global.
Namun, perkembangan teknologi juga membawa tantangan baru di sektor ketenagakerjaan. Laporan World Economic Forum memperkirakan sekitar 22 persen jenis pekerjaan akan mengalami perubahan akibat adopsi teknologi digital dan AI. Karena itu, pemerintah terus mendorong pengembangan talenta digital melalui pelatihan dan kolaborasi dengan berbagai pihak.
Selain itu, Indonesia juga mendorong kerja sama regional melalui inisiatif ASEAN Digital Economy Framework Agreement (DEFA) yang diharapkan dapat memperkuat integrasi ekonomi digital di kawasan Asia Tenggara.
Dengan potensi ekonomi digital yang terus berkembang, pemanfaatan teknologi AI dinilai akan menjadi faktor penting dalam meningkatkan produktivitas industri, memperkuat UMKM, serta menjaga momentum pertumbuhan ekonomi Indonesia ke depan.





