Safe and SecureUpdate News

Etika Berkendara Saat Banjir: Jangan Ciptakan Ombak yang Membahayakan Pengendara Lain

Saat banjir melanda jalanan, pengendara harus bijak dan mengedepankan etika berkendara, termasuk menghindari menciptakan ombak yang dapat membahayakan pengguna jalan lain.

Banjir menjadi tantangan tersendiri bagi pengendara motor dan mobil, terutama ketika ketinggian air sudah mencapai lantai kendaraan. Selain risiko kerusakan mesin, kesalahan dalam berkendara saat kondisi seperti ini bisa mengancam keselamatan diri sendiri maupun pengendara lain. Satu hal penting yang sering luput dari perhatian adalah etika berkendara ketika melewati genangan: hindari menciptakan ombak besar yang dapat mengguncang pengguna jalan lain.

Ketika sebuah kendaraan melaju pada permukaan banjir dengan kecepatan tinggi, roda akan menghasilkan gelombang air atau ombak yang bisa menyapu pejalan kaki, pengendara sepeda motor, atau kendaraan kecil yang berada di jalur yang sama. Bukan hanya menyebabkan basah kuyup, ombak besar juga bisa membuat pengendara lain kehilangan keseimbangan, bahkan berpotensi jatuh dan mengalami cedera.

Prinsip dasarnya sederhana: saat berkendara melintasi banjir, sesuaikan kecepatan dengan kondisi jalan dan kendaraan di sekitarnya. Berkendara terlalu cepat tidak hanya meningkatkan risiko kecelakaan, tetapi juga menciptakan ombak yang merugikan orang lain. Para pakar keselamatan lalu lintas menekankan pentingnya bersabar dan memperlambat kendaraan, bahkan ketika memilih jalur yang paling dangkal sekalipun.

Etika berkendara saat banjir juga mencakup memilih jalur yang paling aman, menjaga jarak dengan kendaraan di depan, serta menghindari manuver mendadak. Pengemudi mobil dianjurkan untuk berjalan perlahan dan stabil, sehingga air tidak masuk ke sistem mesin atau komponen kelistrikan. Sementara pengendara motor disarankan untuk tetap tegak, tidak memaksakan laju, dan siap mengatasi situasi hidroplaning — fenomena ketika ban kehilangan kontak dengan permukaan jalan akibat lapisan air yang tebal.

Read More  DAIKIN Resmikan Pabrik AC Hunian Pertama di Indonesia

Selain itu, pengendara juga harus memperhatikan kondisi lalu lintas secara keseluruhan. Ketika satu jalur penuh kendaraan yang bergerak perlahan, hal ini menjadi sinyal bahwa ada potensi genangan yang dalam. Mengalihkan rute atau menunggu air surut bisa menjadi langkah yang lebih bijak ketimbang memaksakan lewat dan menciptakan gelombang air yang justru membahayakan.

Penting pula untuk memerhatikan tanda peringatan atau arahan dari petugas di lapangan. Banyak kasus banjir di kota besar yang disertai petugas lalu lintas yang membantu mengatur arus kendaraan. Mengikuti arahan tersebut tidak hanya memperkecil risiko kecelakaan, tetapi juga menunjukkan kepedulian terhadap pengguna jalan lain.

Tak kalah penting, perawatan kendaraan setelah melintasi banjir juga wajib dilakukan. Pastikan rem, sistem kelistrikan, dan mesin dicek secara menyeluruh untuk menghindari kerusakan lebih lanjut atau potensi kecelakaan akibat komponen yang terganggu.

Pada dasarnya, berkendara saat banjir bukan hanya soal kemampuan teknis, tetapi juga tanggung jawab sosial. Mengutamakan etika di jalan, seperti tidak menciptakan ombak yang membahayakan orang lain, menunjukkan bahwa setiap pengendara peduli terhadap keselamatan bersama. Dengan kebiasaan berkendara yang baik dan bijak, hambatan seperti banjir dapat dilalui dengan risiko seminimal mungkin.

Back to top button