HealthcareUpdate News

Fenomena Overwork Menguat di Ibu Kota

Jam kerja berlebihan atau overwork kian menguat di Jakarta, memicu kekhawatiran soal kesehatan pekerja dan efektivitas perlindungan ketenagakerjaan.

Bekerja lebih dari delapan jam sehari kini menjadi hal yang makin lazim di ibu kota. Fenomena overwork atau jam kerja berlebihan menguat di Jakarta, seiring tingginya tekanan ekonomi, persaingan kerja, dan budaya produktivitas yang kerap mengabaikan batas fisik serta mental pekerja.

Data Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) dari Badan Pusat Statistik menunjukkan masih banyak pekerja yang bekerja di atas 44 jam per minggu. Angka ini melampaui standar jam kerja normal dan berpotensi meningkatkan risiko kelelahan kronis.

Secara global, World Health Organization (WHO) bersama International Labour Organization (ILO) pernah merilis kajian bahwa jam kerja sangat panjang—lebih dari 55 jam per minggu—berkaitan dengan peningkatan risiko stroke dan penyakit jantung. Temuan tersebut memperkuat kekhawatiran bahwa overwork bukan sekadar isu produktivitas, tetapi juga persoalan kesehatan publik.

Di Jakarta, tekanan biaya hidup dan kompetisi karier membuat banyak pekerja merasa perlu mengambil lembur atau pekerjaan tambahan. Kondisi ini diperparah oleh budaya kerja di sejumlah sektor yang masih menganggap jam kerja panjang sebagai bentuk loyalitas dan dedikasi.

Padahal, berbagai studi menunjukkan produktivitas tidak selalu sebanding dengan lamanya waktu bekerja. Kelelahan justru dapat menurunkan konsentrasi, meningkatkan kesalahan kerja, hingga berdampak pada kesehatan mental seperti stres dan burnout.

Pengamat ketenagakerjaan menilai regulasi jam kerja sebenarnya sudah diatur dalam undang-undang. Namun, pengawasan dan implementasinya di lapangan masih menghadapi tantangan, terutama di sektor informal dan pekerjaan berbasis target.

Read More  Google Maps Siap Mudik Lebaran 2026: Gandeng Korlantas dan Jasa Marga, Hadirkan Fitur Canggih

Fenomena overwork yang menguat di ibu kota menjadi pengingat pentingnya keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi (work-life balance). Perubahan budaya kerja, penguatan pengawasan, serta kesadaran perusahaan terhadap kesejahteraan karyawan menjadi langkah penting agar produktivitas tetap terjaga tanpa mengorbankan kesehatan.

Jika tidak dikelola dengan baik, overwork bukan hanya akan menurunkan kualitas hidup pekerja, tetapi juga berdampak pada produktivitas ekonomi secara jangka panjang.

Back to top button