Gentengisasi: Ganti Atap Seng dengan Genteng, Apakah Rumah Jadi Lebih Nyaman dan Aman?
Presiden Prabowo Subianto memperkenalkan gerakan gentengisasi untuk mengganti atap rumah berbahan seng dengan genteng berbasis tanah, dengan tujuan menciptakan hunian yang lebih sejuk, estetis, dan nyaman di seluruh Indonesia.
Gagasan gentengisasi menjadi perbincangan setelah Presiden Prabowo Subianto menyerukan penggantian atap rumah dari seng ke genteng pada Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Pemerintah Pusat dan Daerah Tahun 2026 di Sentul, Bogor. Prabowo mengatakan bahwa banyak rumah di berbagai kota, kecamatan, dan desa masih banyak menggunakan atap seng, yang menurutnya kurang ideal bagi penghuni rumah dari segi kenyamanan dan estetika.
Menurut Prabowo, atap seng sering terasa panas di dalam rumah, terutama saat cuaca terik, sehingga kurang nyaman ditinggali dalam jangka panjang. Selain itu, seng juga mudah berkarat dan memberikan kesan kurang estetis pada wajah permukiman. Ia mendorong semua atap rumah di Indonesia supaya menggunakan genteng berbahan tanah liat atau campuran bahan lain yang kuat, sebuah gagasan yang dinamainya proyek gentengisasi
Dalam konteks iklim tropis Indonesia, pemilihan material atap memiliki peran penting terhadap kenyamanan dan keselamatan penghuni rumah. Atap seng dikenal ringan dan murah, namun kerap menimbulkan masalah seperti panas berlebih di siang hari dan suara bising saat hujan. Sebaliknya, genteng dinilai mampu memberikan perlindungan termal dan akustik yang lebih baik.
Pakar arsitektur dari Institut Teknologi Bandung (ITB), Prof. Bambang Setia Budi, menjelaskan bahwa genteng secara alami memiliki kemampuan isolasi panas yang lebih unggul. Menurutnya, rumah dengan atap genteng cenderung memiliki suhu ruang yang lebih stabil dibandingkan rumah beratap seng.
âMaterial genteng memiliki kapasitas isolasi panas yang lebih baik dibandingkan seng. Rumah dengan atap genteng biasanya lebih sejuk dan nyaman, sehingga cocok untuk iklim tropis seperti Indonesia,â ujar Bambang dalam berbagai kajian arsitektur tropis yang juga banyak dikutip media nasional.
Selain faktor panas, kenyamanan akustik juga menjadi pertimbangan penting. Saat hujan deras, suara yang dihasilkan atap seng kerap mengganggu aktivitas penghuni rumah. Genteng, dengan struktur dan ketebalannya, mampu meredam suara hujan sehingga suasana di dalam rumah tetap lebih tenang.
Dari sisi keamanan, Ketua Umum Ikatan Arsitek Indonesia (IAI), Ar. Ahmad Djuhara, menilai genteng lebih stabil ketika diterapkan pada bangunan rumah tinggal yang dirancang dengan struktur memadai. Ia menyebut, atap genteng relatif lebih tahan terhadap terpaan angin kencang dibandingkan atap ringan.
âAtap genteng secara umum lebih sesuai untuk rumah tinggal di Indonesia. Selain lebih nyaman secara termal, genteng juga lebih stabil terhadap angin, asalkan konstruksi kuda-kuda dan struktur bangunan dirancang dengan benar,â kata Ahmad Djuhara dalam diskusi publik mengenai arsitektur berkelanjutan.
Dalam perbincangan soal gentengisasi, pemerintah juga menghadirkan pandangan dari narasumber yang kompeten di bidang perencanaan dan ekonomi. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyampaikan bahwa gagasan gentengisasi tidak sekadar menyangkut estetika bangunan, melainkan telah dipersiapkan melalui kajian pemanfaatan material lokal yang lebih berkelanjutan.
âTadi sedang menghitung kalau atap seng itu diganti dengan genteng, dan gentengnya itu berbasis memanfaatkan fly ash. Nah itu sudah ada studinya, nanti akan segera disampaikan,â ujar Airlangga seusai menghadiri Rapat Koordinasi Nasional Pemerintah Pusat dan Daerah.
Pernyataan Airlangga tersebut memberi dimensi lain terhadap gentengisasi. Program ini tidak hanya diarahkan untuk meningkatkan kenyamanan dan keamanan hunian, tetapi juga mendorong inovasi material bangunan dengan memanfaatkan fly ash, limbah hasil pembakaran batu bara, sehingga memiliki nilai tambah ekonomi dan lingkungan.
Meski demikian, para ahli mengingatkan bahwa genteng memiliki bobot yang lebih berat dibandingkan seng. Karena itu, penerapan gentengisasi tidak bisa dilakukan secara sembarangan. Rumah harus memiliki struktur yang cukup kuat agar mampu menopang beban atap tanpa menimbulkan risiko kerusakan atau bahkan runtuh.
Ahmad Djuhara menegaskan bahwa perubahan material atap seharusnya dibarengi dengan peningkatan kualitas konstruksi rumah secara keseluruhan. Tanpa perhitungan teknis yang tepat, niat meningkatkan keamanan justru bisa berbalik menjadi ancaman bagi penghuni.
Dengan demikian, gentengisasi bukan sekadar mengganti jenis atap, melainkan bagian dari upaya memperbaiki kualitas hunian secara menyeluruh. Jika diterapkan dengan perencanaan yang matang dan berbasis kajian teknis, rumah beratap genteng dinilai lebih aman, lebih nyaman, serta lebih sesuai dengan karakter iklim Indonesia, sekaligus mendukung pemanfaatan material lokal dan pembangunan perumahan yang berkelanjutan.





