Hampir Separuh Pelajar Bandung Terindikasi Gangguan Mental, Ini Cara Mencegahnya
Hasil skrining kesehatan mental di Kota Bandung mengungkap bahwa hampir separuh pelajar, khususnya di jenjang SMP, terindikasi mengalami gangguan kesehatan mental
Temuan terbaru skrining Cek Kesehatan Jiwa (CKG) yang dilakukan terhadap 148.239 peserta didik di Kota Bandung menunjukkan angka mengkhawatirkan: sekitar 48,19 persen pelajar terindikasi mengalami masalah kesehatan mental, dengan indikator tertinggi terjadi di jenjang SMP/MTs sederajat.
Dari sekian banyak indikasi gangguan yang teridentifikasi, mayoritas pelajar menunjukkan gejala ansietas ringan hingga berat, sementara sebagian lain menunjukkan tanda-tanda depresi ringan hingga berat. Data ini menjadi alarm penting bagi pemerintah daerah, pendidikan, dan orang tua bahwa kesejahteraan psikologis anak perlu menjadi prioritas dalam kebijakan dan praktik sehari-hari.
Wali Kota Bandung Muhammad Farhan mengatakan, kondisi ini menunjukkan bahwa pelajar saat ini menghadapi tekanan yang jauh lebih besar dibandingkan generasi sebelumnya, terutama di era digital yang penuh ekspektasi akademik dan sosial. Tanpa penanganan yang tepat, stres berkepanjangan dapat berkembang menjadi kondisi yang lebih serius, bahkan mendorong munculnya pikiran bunuh diri.
Untuk mengantisipasi dan mencegah gangguan kesehatan mental pada pelajar, sejumlah pendekatan telah dan perlu diperkuat. Pemerintah Kota Bandung tengah menyiapkan program intervensi yang melibatkan guru Bimbingan Konseling (BK), psikolog, serta psikolog klinis untuk melakukan asesmen, pendampingan, dan terapi psikologis bagi siswa yang membutuhkan.
Pendidikan karakter juga menjadi bagian dari strategi pencegahan. Dinas Pendidikan Kota Bandung telah menggandeng berbagai pihak, termasuk TNI dan Polri, untuk membangun pola pikir positif pada anak, menanamkan rasa tanggung jawab, kemandirian, dan ketahanan mental agar mereka tidak mudah terprovokasi atau terintimidasi oleh tekanan sosial di luar sekolah.
Peran orang tua tak kalah penting dalam mencegah gangguan mental. Psikolog yang dilibatkan dalam program ini menekankan bahwa komunikasi yang terbuka, pemahaman terhadap perubahan emosional anak, serta dukungan penuh di rumah dapat membantu mengurangi kecemasan dan gejala depresi. Psikoedukasi bagi orang tua sebagai bagian dari intervensi komunitas juga menjadi langkah yang perlu diperluas.
Sekolah pun diimbau untuk memperkuat layanan bimbingan konseling dan pendekatan peduli well-being siswa. Guru BK yang dilatih untuk membaca tanda-tanda awal gangguan psikologis dapat menjadi garis depan dalam deteksi dini sebelum kondisi tersebut berkembang lebih parah.
Pencegahan gangguan mental pada pelajar juga dapat dimulai dari hal-hal sederhana namun berdampak besar, seperti menciptakan lingkungan sekolah yang inklusif, ruang curhat yang aman, serta program aktivitas fisik dan seni yang mendukung ekspresi emosional. Lingkungan sosial yang menyokong rasa aman dan diterima secara sosial dapat menjadi benteng awal dari stres dan kecemasan yang dialami remaja.
Dengan kolaborasi yang kuat antara sekolah, pemerintah, orang tua, dan tenaga profesional, diharapkan kesejahteraan psikologis pelajar Bandung dapat meningkat dan angka gangguan mental yang terindikasi dapat ditekan secara bertahap.



