Fintalk

Harga Bitcoin Anjlok ke Rp1,79 Miliar, Sentimen The Fed dan Politik AS Tekan Pasar Kripto

Harga Bitcoin (BTC) kembali merosot tajam lebih dari 1,7% dalam 24 jam terakhir, menembus level US$108.200 atau sekitar Rp1,79 miliar pada Jumat (31/10), seiring tekanan besar dari faktor makroekonomi dan teknikal global.

Bitcoin kembali berada di bawah tekanan setelah pasar kripto global terkoreksi sekitar 2,21% dalam sehari. Berdasarkan data CoinMarketCap, BTC kini diperdagangkan di kisaran US$108.200 atau turun 1,7% dibandingkan posisi sebelumnya.

Tekanan utama datang setelah pernyataan Ketua The Federal Reserve (The Fed) Jerome Powell yang menyebutkan bahwa pemangkasan suku bunga pada Desember “bukan hal yang pasti.” Komentar tersebut memicu kekhawatiran investor dan mendorong arus modal ke aset aman seperti emas dan dolar AS.

Situasi ini diperburuk oleh ketegangan politik di Amerika Serikat, di mana penutupan sebagian pemerintahan (government shutdown) telah memasuki hari ke-30 dan berpotensi memecahkan rekor terlama sepanjang sejarah.

“Ketidakpastian arah suku bunga dan tensi politik di AS menekan minat terhadap aset berisiko, termasuk kripto,” kata Fyqieh Fachrur, Analis Tokocrypto, Jumat (31/10). “Saat dolar menguat dan investor mencari perlindungan di aset tradisional, Bitcoin kehilangan daya tarik jangka pendeknya.”

Secara teknikal, Bitcoin juga menembus level support penting di US$108.000 serta jatuh di bawah 200-day Exponential Moving Average (EMA) di US$108.682 dan level Fibonacci 23,6% di US$108.435. Kondisi ini memicu stop-loss otomatis dan aksi jual algoritmik yang memperparah tekanan harga.

“Breakdown di area ini menjadi sinyal bearish jangka pendek,” lanjut Fyqieh. “Jika BTC gagal menembus kembali di atas US$108.000, koreksi lanjutan ke kisaran US$103.000–US$104.000 bisa terjadi sebelum pasar menemukan keseimbangan baru.”

Data CoinGlass mencatat lebih dari US$1,1 miliar posisi derivatif kripto dilikuidasi dalam 24 jam terakhir, termasuk US$268 juta posisi long Bitcoin. Kenaikan open interest sebesar 4,7% menandakan tekanan jual meningkat dari posisi short baru. Pendanaan negatif (funding rate) juga memperkuat sentimen bearish di pasar.

Read More  PHK Meningkat Tajam, Keluarga Perlu Strategi Keuangan yang Tepat

Meski tampak suram, sejumlah analis melihat peluang pemulihan menjelang November. Secara historis, bulan November sering kali menjadi periode rebound bagi Bitcoin, dengan rata-rata kenaikan 46% dalam 12 tahun terakhir.

Fyqieh menambahkan, “Jika The Fed mulai memberi sinyal pelonggaran likuiditas dan stabilisasi hubungan dagang AS–China berlanjut, Bitcoin berpotensi rebound menuju US$115.000–US$120.000 dalam jangka menengah.”

Penurunan harga Bitcoin kali ini mencerminkan kombinasi tekanan makroekonomi, faktor teknikal, dan likuidasi derivatif yang mempercepat koreksi. Namun, dengan potensi kebijakan moneter yang lebih longgar dan akumulasi investor institusional, peluang comeback menjelang akhir tahun masih terbuka lebar.

Back to top button