Harga Bitcoin Stabil di Atas US$90.000, Sinyal Bullish Menguat Meski Ditekan Whale
Harga Bitcoin bertahan di atas US$90.000 , meski tekanan whale dan arus keluar ETF masih membatasi reli lanjutan.
Harga Bitcoin (BTC) menunjukkan ketahanan yang solid dengan tetap bertahan di atas level psikologis US$90.000 atau setara sekitar Rp1,94 miliar. Pergerakan ini ditopang oleh penguatan sinyal teknikal serta respons pasar terhadap kebijakan pemangkasan suku bunga The Federal Reserve (The Fed). Meski demikian, tekanan dari aksi ambil untung oleh whale dan arus keluar dana dari produk ETF masih membatasi potensi kenaikan lanjutan.
Secara teknikal, grafik harian Bitcoin membentuk pola golden cross pada pergerakan moving average MA5, MA10, dan MA30. Pola ini memperkuat area support di kisaran US$90.500 hingga US$91.300. Selain itu, indikator MACD histogram berbalik ke zona positif di level +897,19, yang menandakan mulai terbentuknya momentum bullish dalam jangka pendek.
Level Fibonacci retracement 50% di area US$92.978 kini menjadi titik krusial penentu arah pergerakan selanjutnya. Jika Bitcoin mampu mencatatkan penutupan harga yang konsisten di atas US$94.140, peluang reli menuju US$98.000 semakin terbuka. Sebaliknya, kegagalan mempertahankan support di US$90.500 berisiko mendorong koreksi ke area US$85.900.
Analis Tokocrypto, Fyqieh Fachrur, menilai kondisi teknikal Bitcoin saat ini masih memberikan fondasi yang positif.
âGolden cross pada time frame harian umumnya menjadi sinyal awal kelanjutan tren naik. Selama Bitcoin mampu bertahan di atas zona US$90.000, struktur teknikalnya masih sehat dan membuka peluang penguatan lanjutan,â ujarnya.
Arus ETF Campuran, Institusi Masih Selektif
Dari sisi institusional, pergerakan dana pada Bitcoin spot ETF menunjukkan sinyal yang beragam. Pada 11 Desember, tercatat net outflow sebesar US$77,34 juta, terutama dipicu arus keluar besar dari Fidelity senilai US$104 juta. Namun, kondisi tersebut sebagian diimbangi oleh inflow sebesar US$76,7 juta ke BlackRock IBIT, yang mencerminkan minat institusi tertentu masih tetap kuat.
Fyqieh menjelaskan bahwa dinamika ini menunjukkan investor institusional belum sepenuhnya meninggalkan Bitcoin.
âMasuknya dana ke BlackRock IBIT menandakan bahwa sebagian investor institusional besar masih melihat Bitcoin sebagai aset strategis untuk jangka menengah hingga panjang. Namun, perbedaan arus dana antar penerbit ETF berpotensi meningkatkan volatilitas harga dalam jangka pendek,â jelasnya.
Di sisi on-chain, terjadi tarik-menarik antara pelaku pasar besar. Data menunjukkan miner publik menambah kepemilikan hingga 10.800 BTC sepanjang November, yang mengindikasikan keyakinan bahwa harga di kisaran US$90.000 masih tergolong undervalued.
Sebaliknya, kelompok whale dengan kepemilikan 10.000 hingga 100.000 BTC tercatat melepas sekitar 36.500 BTC senilai US$3,4 miliar sejak awal Desember, terutama di dekat area resistance US$94.000.
âAkumulasi oleh miner mencerminkan optimisme fundamental, sementara distribusi whale di dekat resistance merupakan pola klasik profit-taking. Selama belum terjadi penembusan kuat di atas US$94.000, pergerakan harga cenderung sideways dengan volatilitas tinggi,â kata Fyqieh.
Penurunan cadangan stablecoin hingga sekitar 50% sejak Agustus juga mengindikasikan likuiditas pasar yang semakin menipis, sehingga setiap breakout berpotensi memicu pergerakan harga yang lebih tajam.
Dampak Pemangkasan Suku Bunga The Fed
Rebound Bitcoin terjadi seiring pemangkasan suku bunga ketiga The Fed sepanjang tahun ini, meskipun pergerakan awal pasar sempat mengikuti pola buy the rumor, sell the news. Secara historis, fase konsolidasi pasca pemangkasan suku bunga kerap diikuti oleh rebound yang lebih signifikan setelah tekanan jual mereda.
Fyqieh menambahkan, kebijakan suku bunga yang lebih rendah tetap menjadi katalis positif bagi aset berisiko, termasuk kripto.
âDalam jangka panjang, penurunan suku bunga meningkatkan selera risiko dan aliran modal ke aset alternatif seperti Bitcoin. Selama sentimen makro tetap kondusif, potensi reli lanjutan masih terbuka,â ujarnya.
Ketahanan Bitcoin di atas US$90.000 mencerminkan kombinasi antara kekuatan teknikal dan minat institusional yang masih selektif, meski dibayangi aksi ambil untung whale dan arus keluar ETF. Rentang US$90.000 hingga US$94.000 kini menjadi area krusial yang akan menentukan arah pergerakan harga selanjutnya.
Pasar menantikan apakah Bitcoin mampu mencatatkan penutupan harga di atas US$94.140 untuk memicu short squeeze dan reli lanjutan, atau justru kembali tertekan akibat distribusi whale dan melemahnya likuiditas. Investor disarankan mencermati pergerakan volume perdagangan intraday sebagai konfirmasi arah tren berikutnya.




